Round-Up

Temuan Pelanggaran di Balik Loncatnya Lima TKW di BLK Malang

Tim Detikcom - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 10:40 WIB
5 calon TKW kabur dan loncat dari tempat penampungan di Kota Malang. Mereka kabur menggunakan kain selimut yang dililitkan ke tembok balai pelatihan kerja.
Lokasi TKW kabur dari BLK di Malang (Foto file: Muhammad Aminudin/Detikcom)
Malang -

Sebanyak 5 calon TKW kabur dari Balai Latihan Kerja (BLK) di Kota Malang. Kelimanya kabur dengan melompat dari gedung setinggi 15 meter. Sejumlah pihak pun menyelidiki apa penyebab mereka kabur.

Salah satunya, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani. Benny langsung ke lokasi BLK PT Centra Karya Semesta (CKS). Di sana, Benny mengaku banyak menemukan pelanggaran pada calon pekerja migran.

Pelanggaran pertama adalah penyitaan telepon seluler. BLK tersebut menyita HP calon TKW dan tak memperbolehkan menggunakannya.

"Kalau kita temukan hari ini jelas, misalnya handphone. Pengakuan dari perusahaan hanya disimpan selama mereka mengikuti proses belajar. Ternyata kita temukan case, tidak dalam posisi belajar handphone juga ditahan, ini kan sarana vital komunikasi lho, mereka penting berkomunikasi setiap waktu dengan keluarganya," ujar Benny kepada wartawan di PT CKS Jalan Rajasa, Kelurahan Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, Sabtu (12/6/2021).

Temuan pelanggaran kedua yakni adanya pemotongan gaji. Misalnya, pekerja migran bekerja di Singapura dengan gaji sebesar Rp 5,5 juta, ternyata dilakukan pemotongan selama 8 bulan.

"Per bulan dipotong Rp 4,1 juta, mereka hanya tinggal mendapatkan Rp 1,4 juta, cukup apa?," ucap Benny.

Selain itu, ada hal lebih fatal ditemukan selama BP2MI mendatangi balai pelatihan itu, yakni setiap calon pekerja yang sudah mendapatkan job di negara penempatan, harus menandatangani perjanjian kerja dengan pihak yang mempekerjakan.

"Di situ diatur, apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban. Mereka yang sudah mendapatkan kerja dan menandatangani perjanjian, tidak mendapatkan salinan fisik perjanjian kerja. Ini kejahatan menurut saya," kata Benny.

Menurut Benny, hal ini tidak boleh dibiarkan, karena tidak seorang pun bisa sewenang-wenang atau melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap pekerja migran. "Mereka adalah pahlawan devisa," tuturnya.

Atas temuan-temuan itu, Benny sangat meyakini ada sebab yang melatarbelakangi lima pekerja migran kabur dengan melompat dari gedung setinggi 15 meter.