62% Pasien COVID-19 di Blitar Meninggal Dirawat Kurang dari 24 Jam

Erliana Riady - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 08:38 WIB
covid-19 di blitar
Foto: Tangkapan layar
Blitar -

Angka kematian pasien COVID-19 Kabupaten Blitar tinggi. Dari 197 pasien COVID-19 meninggal di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, 18 pasien dirawat di IGD kurang dari 24 jam.

Kabupaten Blitar menduduki peringkat ketiga di Jatim untuk kasus kematian COVID-19. Sampai memasuki bulan Juni, tercatat angka kematian sebesar 11,3. Data Satgas COVID-19 Kabupaten Blitar merilis, angka kumulatif kematian per Kamis (10/6) sebanyak 633.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dr Deny Christiantomemaparkan sejak Januari hingga Mei 2021, sebanyak 197 pasien positif COVID-19 dirawat di rumah sakit rujukan ini, meninggal dunia. Dari 197 pasien, yang meninggal di ruang IGD sebanyak 15 persen atau 29 pasien.

Dari 15 persen pasien COVID-19 yang meninggal di IGD, sebanyak 62 persen pasien COVID-19 meninggal ketika dirawat di IGD kurang dari 24 jam. 38 persen dirawat antara 24-48 jam, dan 0 persen yang dirawat lebih dari 48 jam.

"Dari pasien COVID-19 yang meninggal di rumah sakit, 29 orang meninggalnya di ruang IGD. Dan 18 pasien meninggal dalam perawatan kurang dari 24 jam. Ini artinya, pasien ketika datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi kritis. Saturasi di bawah 84 dan harus mendapatkan alat bantu pernafasan," jelas Deny kepada detikcom, Jumat (11/6/2021).

Kasus kematian pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang dirawat di rumah sakit rujukan ini, imbuhnya, 65 persen meninggal dengan komorbid. Sementara 35 persen meninggal tanpa komorbid.

Komorbid atau penyakit penyerta pada pasien Corona ini didominasi diabetes melitus sebanyak 38 persen, hipertensi 27 persen, dan heart failure atau gagal jantung sebanyak 12 persen. Penyakit penyerta lain yang memperparah infeksi virus COVID-19 hingga memicu kematian adalah kanker, gagal ginjal, dan HIV/AIDS.

Menurut Dirut RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Endah Woro Utami, pasien datang ke rumah sakit rujukan sudah dalam kondisi kritis ini karena beberapa faktor. Seperti rendahnya kesadaran masyarakat segera datang ke faskes saat ada gejala mengarah ke COVID-19.

"Dan adanya ketakutan masyarakat karena akan di-COVID-kan. Ini menjauhkan mereka untuk secepatnya mencari pertolongan ke faskes kesehatan," ungkapnya.

Tak bisa dipungkiri, jika isu di-COVID-kan sempat menggema di masyarakat saat awal pandemi terjadi. Sebaliknya, isu yang berkembang saat ini kondisi keuangan negara yang menipis sehingga pasien dengan gejala ringan diminta melakukan isolasi mandiri. Sehingga, mereka baru dirujuk dirawat ke rumah sakit ketika kondisinya kritis.

"Lepas dari itu, di luar wewenang kita. Yang penting rujukan berjalan baik, pembiayaan pun tidak separah saat datang kondisi buruk. Karena biaya di ICU dengan ventilator justru lebih mahal," tandasnya.

Woro mengaku pihaknya rutin melakukan evaluasi rujukan. Mulai puskesmas sampai rumah sakit rujukan dengan melibatkan organisasi profesi seperti IDI dan PPNI.

Woro mengimbau masyarakat jangan takut. Begitu ada gejala jangan menunggu parah, segera berobat. Karena itu akan membantu jika penemuan dini, pengobatan dini, angka kesembuhan akan naik, dan kematian akan turun.

"Kuncinya temukan sedini mungkin, obati sedini mungkin," pungkas Woro.

(iwd/iwd)