Buntu Soal Jam Malam, Paguyuban Warkop Surabaya Ancam Berjualan di Balai Kota

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Rabu, 09 Jun 2021 21:25 WIB
paguyuban warung kopi
Pertemuan paguyuban warung kopi dan Pemkot Surabaya yang tak ada hasil (Foto: Deny Prastyo Utomo)
Surabaya -

Paguyuban Warung Kopi Surabaya kembali melakukan audiensi dengan Pemkot Surabaya membahas pembatasan jam malam. Dalam pertemuan, kembali tak ada titik temu.

Dalam pertemuan yang digelar di Kantor BPB Linmas Kota Surabaya, perwakilan Paguyuban Warkop Surabaya ditemui BPB Linmas bersama tiga pilar. Setelah berjam-jam beraudiensi, pertemuan itu buntu dan tidak menghasilkan titik temu. Harapan pengusaha warkop untuk mendapatkan relaksasi jam malam pupus.

"Hasilnya ya begitu itu, tidak ada titik temu. Satgas hanya melibatkan pakar kesehatan, tidak melibatkan pakar ekonomi. Padahal yang kita perjuangkan dari sisi ekonomi. Nah itu tidak berimbang dalam hal ini pihak Pemkot," ujar Ketua Paguyuban Warung Kopi Surabaya Husin Ghozali saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (9/6/2021).

Pria yang akrab disapa Cak Cong ini mengatakan dalam pertemuan dengan Pemkot Surabaya, paguyuban warung kopi dibenturkan oleh Satgas COVID-19 dalam kerangka kesehatan dan tidak ada solusi untuk pertumbuhan ekonomi bagi para pedagang warung kopi.

Dengan tidak ada hasil yang memberikan solusi yang terbaik, Cak Cong menyampaikan pihaknya akan tetap melakukan konsolidasi dengan para pemilik warung kopi yang tergabung di paguyuban untuk menyuarakan tuntutan ke Pemkot Surabaya.

"Tuntutan kita tetap sama, merelaksasi jam malam ini, agar meringankan beban kegiatan usaha di malam hari, dan juga penindakan secara humanis terkait razia protokol kesehatan," ujar Cak Cong.

Selain itu, mereka juga meminta Pemkot Surabaya meniadakan sanksi administratif berupa denda kepada para pemilik warkop. Dengan penindakan denda administratif tersebut akan meringankan nasib para pemilik warkop yang terdampak ekonomi di tengah pandemi COVID-19.

"Kemudian meniadakan denda secara adminstratif. Itu salah satu yang kami harapkan. Denda Rp 150 ribu, Rp 500 ribu, itu ngelu mas, arek-arek sambat (itu pusing mas, anak-anak mengeluh), wis ga oleh dodolan, tapi jam malam onok (sudah tidak boleh jualan, tapi jam malam ada)," ungkap Cak Cong.

Dalam waktu dekat, para pemilik warkop akan menggelar rapat akbar. Menurut Cak Cong kegiatan itu untuk menyikapi dari tidak ada titik temu dengan pihak Pemkot Surabaya.

"Semua pemilik warkop yang tergabung dalam paguyuban, ke depan kita akan melaksanakan aksi, rencana berjualan di Balai Kota. Kita tidak akan main-main. Kita serius dalam hal ini. Karena ini urusan perut dari semua lapisan, ownernya, karyawan, mitra kami, yang setor gorengan itu nanti akan terlibat," tandas Cak Cong.

(iwd/iwd)