Ini Saran Epidemiolog Soal COVID-19 di Bangkalan, Pemblokiran Hingga PSBB

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 07 Jun 2021 21:38 WIB
Pasca RSUD Bangkalan Lockdown, Pengguna Jalan Melintas di Suramadu Swab Massal
Kerumunan akibat antre tes antigen massal di Suramadu (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Kasus COVID-19 Bangkalan, Madura saat ini sedang meningkat. Pintu masuk Suramadu arah Surabaya pun dilakukan penyekatan dan swab antigen massal kepada seluruh pengendara.

Pakar Kesehatan Masyarakat dan Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo tidak menyarankan warga dites antigen. Karena tes antigen tidak menjamin orang tersebut benar-benar negatif Corona.

"Ndak ada gunanya kalau sekadar swab antigen, kecuali pakai PCR untuk diasgnostik oke. Kalau swab antigen itu hanya untuk screening. Dia bukan goal standar. Goal standar itu PCR, artinya kalau dia negatif bisa false negative, itu bisa menulari orang Surabaya kalau lolos ke Surabaya. Harusnya, daerah merah seperti Madura harus diblok," kata Windhu saaat dihubungi detikcom, Senin (7/6/2021).

Menurut Windhu, sebaiknya dilakukan PSBB di Bangkalan, Madura. Sebab, swab antigen dengan hasil negatif bisa saja positif dan bisa membahayakan Surabaya.

Saran untuk dilakukan PSBB ini, agar setiap orang tak dibolehkan keluar masuk kecuali kepentingan penting misalnya ambulans. Sedangkan bagi para pekerja, Windhu mengatakan atasan bisa memberi izin orang-orang yang di Bangkalan WFH sementara.

Jika melihat kondisi Bangkalan saat ini, Windhu menyarankan untuk melakukan pemblokiran. Baik dari Suramadu maupun Pelabuhan Kamal. Selain pemblokiran, juga PSBB dan bukan PPKM mikro.

"Sebaiknya langsung blok. Semua yang akan masuk dan keluar dari Bangkalan tidak bisa, entah di Pelabuhan Kamal, pintu Suramadu. Bangkalan itu diblok, tidak boleh keluar masuk, lakukan PSBB. Sudah tidak lagi PPKM mikro kalau keadaannya seperti ini, seperti Kudus pun seharusnya gitu," jelasnya.

Windhu meminta pintu Bangkalan harus ditutup. Suramadu pun tidak boleh dilewati orang dari daerah Bangkalan, dan pintu masuk Bangkalan ditutup semua.

Jika warga dari Sumenep masih bisa melintas, lanjut Windhu, karena kasus di sana belum terbukti ada kasus lonjakan. Tetapi, dari Bangkalan ke Sampang tidak boleh.

"Harus PSBB seperti Surabaya Raya, Malang Raya dulu. Kalau separuh-separuh gini, orang masih berlalu lalang. Bangkalan ini kan secara ini persepsi risiko rendah, sudah tidak percaya COVID, masuk Suramadu sampai ke Sumenep tidak pernah pakai masker, ini kritis untuk Bangkalan," urainya.

Windhu juga menyarankan gubernur bisa mengusulkan PSBB sementara ke pemda setempat. Hal ini untuk menghindari lonjakan kasus

"Semoga kasusnya turun. Saya takutnya jadi bom waktu, ini terus naik. kalau berani main PSBB, tidak menulari daerah lain. Yang ditakuti di Surabaya, karena Surabaya penduduknya lebih padat, kalau mereka tercemar virus dari orang lain, lalu lalang dari Bangkalan, berbahaya," pungkas Windhu.

(iwd/iwd)