15 Tahun Gempa Yogya, Pakar Ingatkan Pentingnya Sejarah untuk Mitigasi Bencana

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 14:06 WIB
Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Dr Amien Widodo
Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Dr Amien Widodo/Foto: Istimewa
Surabaya -

Hari ini tepat 15 tahun gempa berkekuatan 5,9 skala richter mengguncang Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Dr Amien Widodo mengajak masyarakat belajar sejarah untuk mitigasi saat ada bencana di masa mendatang.

Amien mengisahkan, berdasarkan sejarah ternyata gempa di Yogya bukan yang pertama. Namun merupakan yang ke tiga yang pernah diketahui. Pertama tahun 1867, kedua tahun 1943 dan ketiga tahun 2006.

"Gempa yang terjadi pada tahun 1867 tercatat di Babad Pakualaman karya permaisuri Paku Alam VI, Gusti Kanjeng Raden Ayu Adipati Paku Alam atau Siti Jaleka, disebutkan bahwa gempa berlangsung sekitar dua menit, menyebabkan tanah berjungkat, bagai diayun-ayun, bergetar bergoyang bagai hendak dicabut. Bumi dan langit seperti hendak menelungkup. Suara gemuruh di puncak gunung amat mengerikan. Ombak laut pun menjadi besar 'kocak-kocak' hingga air dan ikannya terangkat ke daratan," kata Amien kepada detikcom di Surabaya, Kamis (27/5/2021).

Namun, Amien menyayangkan catatan gempa Yogya tahun 1867 tidak tersosialisasikan di masyarakat. Padahal kejadian gempa Yogya tahun 2006 hampir mirip dengan tahun 1867.

"Sejarah gempa mempunyai arti penting untuk antisipasi gempa di masa depan sehingga risiko bencana bisa dikurangi. Tanggal kejadian dan skala gempa harus diingat semua orang yang bermukim di sekitar lokasi gempa tersebut. Sebab sangat mungkin terjadi lagi di tempat yang sama," ungkapnya.

Kendati demikian, Amien yang lahir di Yogya mengaku tak pernah mendapatkan pengetahuan akan gempa. Padahal, jika mempelajari sejarah, masyarakat juga akan sadar pentingnya belajar mitigasi gempa untuk menyelamatkan diri.

"Saya termasuk salah satu anak yang lahir dan besar di Yogya, bahkan kuliah saya di Teknik Geologi, tapi saya tidak pernah diberitahukan tentang adanya gempa itu dan tidak pernah dilatih tata cara menghadapi gempa itu. Oleh karenanya sangat dimaklumi masyarakat Yogya dan Jawa Tengah panik luar biasa," tambahnya

Akibat gempa 2006, Amien mengatakan laporan kerusakan dan kerugian dari PUPR dan Bappenas menyebutkan, tercatat ada 5.760 orang meninggal dunia, 29.277 orang luka berat, dan 7.863 orang luka ringan.

Selain itu, lebih dari satu juta orang menjadi pengungsi di tempat-tempat penampungan sementara. Kerugian fisik dialami oleh masyarakat yang kehilangan rumah yang roboh atau rusak berat atau tidak layak huni sebanyak 175.671 unit di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan 104.084 unit di Jateng.

"Kerugian fisik membengkak sangat besar karena gempa bumi juga menimbulkan kerusakan hebat pada fasilitas untuk berbagai kegiatan ekonomi produktif. Kerugian finansial akibat bencana gempa bumi tersebut diperkirakan sekitar Rp 29,1 triliun, dengan perumahan sebagai sektor yang paling banyak menderita kerugian Rp 15,3 triliun, disusul dengan sektor usaha produktif Rp 9 triliun, fasilitas publik (Rp 4 triliun, dan infrastruktur," papar Amien.

Simak video 'BMKG: 2021, Gempa Bumi di RI Rata-rata Satu Bulan 600-an':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2