RS di Surabaya Antisipasi Lonjakan Kasus COVID-19 Usai Lebaran

Esti Widiyana - detikNews
Sabtu, 08 Mei 2021 20:49 WIB
rs husada utama
Rumah Sakit Husada Utama (RSHU) Surabaya/Foto file: Esti Widiyana
Surabaya -

Beberapa RS di Surabaya bersiap untuk mengantisipasi lonjakan kasus COVID-19. Sebab berkaca dari tahun lalu, kasus COVID-19 naik usai Lebaran.

RS Husada Utama (RSHU) Surabaya saat ini sudah menyiapkan 150 bed dan 10 bed untuk ruangan ICU. Selain itu, RSHU juga melakukan persiapan ruangan tekanan negatif, clinical pathway, dan lainnya.

"Ruangan sudah siap seperti yang dulu, hanya mengubah-mengubah setting-an dari tekanan positif ke tekanan negatif. Nanti Hari Senin juga akan ada pertemuan via zoom dengan Bu Kadinkes Surabaya terkait hal ini," kata Dirut RSHU dr Didi Dewanto SpOG saat dihubungi detikcom, Sabtu (8/5/2021).

Didi juga berpesan kepada masyarakat untuk menahan diri tidak mudik dulu. Selain mudik, juga tidak bepergian ke tempat wisata yang berpotensi menimbulkan kerumunan.

"Yaa sebaiknya menahan diri untuk tidak mudik, wisata ke tempat keramaian. Tetap patuhi protokol kesehatan, agar Indonesia tidak seperti negara India," pesannya.

Sama halnya dengan National Hospital Surabaya. Pihak RS juga menambah dua lokasi swab center. National Hospital memiliki 220 tempat tidur dan 15 bed ICU.

"Kami siap melayani 24 jam, 7 hari dan hari raya bila diperlukan screening COVID-19. Kami juga sudah menyiapkan ruangan rawat inap baik untuk COVID-19 dan non-COVID-19," kata Manajer Umum National Hospital Anindito Kusumojati.

Sementara Tim Satgas COVID-19 RS Universitas Airlangga (RS Unair) Surabaya, dr Wiwin Is Effendi SpP(K) PhD mengatakan, tidak ada persiapan khusus yang dilakukan RS Unair dari segi pelayanan. Namun RS Unair tetap waspada akan lonjakan kasus.

"Mungkin begini, kami akan lebih konsen pada temuan mutan baru yang ada di Jawa Timur. Kalau pelayanan secara umum RSUA tetap seperti ini, dokter terus stand by," kata Wiwin.

Dokter spesialis paru-paru ini menjelaskan, adanya mutan baru yang bermunculan di Jatim menjadi fokus pihaknya. Karena menurut informasi mutan-mutan baru ini tidak bisa terdeteksi PCR.

"Menurut referensi mutan tersebut tidak bisa terdeteksi dengan PCR. Jadi nanti mungkin kalau ada seperti itu, diagnostiknya yang jadi konsentrasi kami," ujarnya.

Saat ini, pasien COVID-19 di RSUA menurun signifikan, yakni hingga 70 persen. Sebab dari kapasitas 77 orang sekarang hanya tinggal 16 orang yang dirawat.

"Saya berharap setelah Lebaran pun angkanya akan terus turun. Untuk itu saya imbau untuk masyarakat salat id di rumah saja, kalau bisa jangan unjung sana ujung sini dulu," pungkasnya.

(sun/bdh)