Transportasi Dilarang Beroperasi, Organda Blitar Sebut PO Rugi Rp 50 Juta/Hari

Erliana Riady - detikNews
Rabu, 28 Apr 2021 14:20 WIB
perusahaan otobus (PO) di Blitar Raya
Pengusaha otobus rugi Rp 50 juta/hari (Foto: Erliana Riady/detikcom)
Blitar -

Larangan mudik dan pengetatan perjalanan berimbas langsung ke pengusaha bus. Organda Blitar Raya menyebut, potensi kerugian tiap perusahaan otobus (PO) sekitar Rp 50 juta/hari.

Ketua Organda Blitar Raya, Heri Romadhon menilai transportasi umum dilarang beroperasi saat mudik lebaran 2021, bukan kebijakan yang berpihak ke pengusaha transportasi. Dampak pandemi selama ini, telah membuat bisnis tersebut hidup segan mati tak mau. Kondisi ini diperparah dengan moda transportasi dilarang beroperasi sebagai konsekuensi larangan mudik.

"Saya kalkukasi sama teman-teman anggota organda, kalau di skala Jatim kerugian bisa mencapai ratusan juta per hari. Miliaran sebulan. Tapi kalau skala Blitar, kerugian bisa mencapai Rp 50 juta per hari per PO," kata Heri saat dihubungi detikcom, Rabu (28/4/2021).

Adendum Surat Edaran (SE) No 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 H. Dan pelaku perjalanan mendesak, menurut Heri tidak berdampak signifikan bagi survivenya bisnis angkutan.

"Berapa orang yang keluarganya meninggal, berapa orang yang hamil dan mau melahirkan. Prosentasenya apa ada 30 dari rata-rata jumlah pemudik dalam kondisi normal. Adanya adendum ini tidak berdampak signifikan," tandasnya.

Beberapa PO yang garasinya di Blitar mengaku akan tetap jalan dengan adanya adendum itu. Namun jumlah armada dikurangi karena mereka memprediksi jumlah penumpang akan menurun tajam.

Selanjutnya
Halaman
1 2