Kolom

Mungkinkah Membendung Mudik?

Muh. Fajaruddin Atsnan - detikNews
Rabu, 28 Apr 2021 12:15 WIB
Pemerintah memperketat larangan mudik untuk mencegah penyebaran virus Corona. Meski begitu, masih ada sejumlah warga yang nekat mudik lebih awal.
Larangan diperketat, masih ada warga mudik lebih awal (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Ramadhan hampir berjalan setengahnya. Hari kemenangan masih cukup lama, tetapi kita sudah ramai membincangkan salah satu tradisi orang Indonesia, khususnya mereka yang merantau, yakni mudik ke kampung halaman. Melihat mudik yang kembali dilarang tahun ini, tampaknya ada fenomena unik. Apa itu? Ya, tidak sedikit dari perantau yang mudik di luar tanggal larangan mudik. Uniknya lagi, pemerintah justru mempersilakan mudik di luar tanggal yang dilarang.

Terus bagaimana logika ini, mudik dilarang, tapi dipersilakan? Kebijakan pemerintah yang terkesan membingungkan ini bisa kita tafsirkan sebagai perwujudan manusia Indonesia yang memiliki sifat "tidak enak". Tujuan melarang mudik Lebaran tahun ini tidak lain untuk menghindari lonjakan gelombang kelima penyebaran Covid-19. Sebelumnya, terjadi gelombang ketiga saat libur panjang 28 Oktober - 1 November 2020, yang menyebabkan kenaikan kasus Covid mencapai 95%, dan gelombang keempat saat libur Natal, akhir tahun, dan Tahun Baru 2021, yang kala itu tercatat menyebabkan kenaikan hingga 78%.

Wajar, jika kemudian pemerintah cenderung skeptis dan akhirnya mengeluarkan larangan mudik dua tahun berturut-turut. Namun di sisi lain, mereka yang mau mudik pun lebih "kreatif". Biar tidak menjadi bagian pepatah "ada aturan memicu untuk dilanggar", mereka menyiasati mudik lebih awal dan balik lebih akhir.

Ironisnya, mudik dilarang, tetapi tempat wisata tetap boleh beroperasi. Ini lebih menarik lagi, karena mereka yang sudah menyesaki kampung halaman, alias mudik lebih dulu, punya "surat izin" jalan-jalan ke tempat wisata --satu aktivitas yang wajib ditunaikan ketika mudik Lebaran (dalam kondisi normal).

Di tengah keunikan larangan dan "izin" yang menyebabkan mudik menjadi aktivitas "abu-abu" tahun ini, ada satu pertanyaan, mampukah membendung para perantau untuk mudik ke kampung halaman saat Lebaran nanti?

Menimbang Esensi

Tahun lalu, mudik sudah dilarang. Begitupun jabat tangan dan aktivitas halal bihalal serba dibatasi. Tahun ini, hal yang sama kembali terjadi. Bedanya, mungkin hanya terletak pada tahun lalu belum berjalan proses vaksinasi, tetapi tahun ini sudah berjalan. Serta, bertambahnya protokol kesehatan dari 3M menjadi 5M. Asumsi diri setelah divaksin berarti kebal dan anti-corona menjadi alasan mengapa protokol kesehatan mulai dikendurkan.

Padahal, vaksin dan imun terbaik justru dari kewaspadaan dan kepatuhan diri menjalankan protokol kesehatan. Merasa yakin akan semua baik-baik saja setelah vaksin tidak sepenuhnya salah, tetapi bisa menjadi blunder, ketika menjadikan pasca-vaksin sebagai momentum tepat untuk bisa mudik Lebaran tahun ini.

Ketika para perantau mengatakan bahwa mudik adalah tradisi wajib layaknya makan opor saat hari raya Idul Fitri sebagai momentum melepas rindu dengan keluarga di kampung, maka itu artinya memaknai mudik sebagai bentuk kasih sayang terhadap keluarga kita.

Dalam situasi normal, menginterpretasikan mudik sebagai bentuk kasih sayang, pengorbanan, dan perhatian, sehingga ada dorongan mewajibkan diri bagi yang mereka yang luang materi dan waktu, adalah hal yang lumrah. Namun, ketika pandemi Covid masih bersemayam di bulan suci di negeri kita ini, maka patut ditanyakan, apakah dengan "memaksakan" mudik masih menjadi bentuk rasa kasih sayang terhadap keluarga?

Atau, justru mudik sebagai bentuk ancaman bagi handai taulan keluarga yang disayangi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan, yaitu terinfeksi Covid-19?

Semua tidak ada yang tahu, tetapi logika sederhananya, semakin kita menambah mobilitas, seperti mudik, maka peluang terkena Covid-19 entah di mananya, itu akan semakin besar. Sebaliknya, semakin kita mengurangi aktivitas mobilitas, menunda mudik, berarti potensi terkena Covid, baik diri kita maupun keluarga yang kita cintai, juga semakin kecil. Sederhananya, dengan menunda mudik, berarti kita telah menjaga orang-orang yang kita sayangi di kampung seberang.

Lantas, apakah mudik virtual menjadi pilihan tepat (lagi)? Ya, tergantung pada pribadi masing-masing. Yang jelas, mudik atau tidak, kita seyogianya melihat dari apa urgensi mudik. Pertama, mudik adalah wujud cinta dan sayang terhadap keluarga. Dengan mudik, berarti seorang perantau bisa dikatakan tidak lupa dengan tanah kelahirannya, tidak lupa terhadap kampung yang telah membesarkan namanya. Jika hal tersebut sebagai esensinya, mudik virtual dengan video call dan semacamnya pun bisa diterjemahkan sebagai bentuk perhatian cinta dan sayang. Yang membedakan hanyalah dimensi tempat dan medianya saja. K

edua, mudik adalah kesempatan baik untuk berbagi rezeki. Dengan mudik ke kampung halaman, berarti bisa membagikan sedikit atau banyak rezeki untuk orang-orang terkasih. Jika itu esensinya, bukanlah dengan membelikan baju baru untuk Lebaran yang dikirim, dipaketkan, itu sama saja berbagi rezeki? Plus, jika mau memberi salam tempel untuk anak-anak, ponakan, dan lain-lain kita bisa kirim lewat transfer. Sangat mudah dan aman, karena less contact.

Ketiga, mudik adalah kesempatan untuk mengobati rindu akan selera asal. Dengan mudik, identik dengan tersedianya makanan, kuliner khas daerah asal. Baik makanan berat, maupun aneka cemilan dan kudapan yang biasa disuguhkan di kala Lebaran. Jika itu esensinya, maka kita bisa request orangtua untuk masak masakan khas Lebaran, kemudian dikirimkan sehari sampai.

Memang, rasa ingin kembali sesaat alias mudik untuk men-charge semangat bekerja dan berkarya adalah tepat. Karena, mudik menjadi semacam mood booster para perantau untuk kembali bisa bercengkerama dengan keluarga. Mudik kadang menjadi satu-satunya momen untuk pulang dan menghirup kembali udara kampung halaman. Tidak salah jika kemudian para perantau entah bagaimana caranya memperjuangkan untuk bisa mudik.

Tetapi sekali lagi, rasa sayang kita terhadap orang-orang terkasih di kampung halaman dengan (kembali) menunda mudik harus lebih besar, daripada memilih tetap memaksakan mudik, nyolong-nyolong di hari yang dipersilakan (tak dilarang).

Menunda bukan berarti membatalkan untuk tidak mudik, tetapi menunggu saat yang tepat untuk bisa mudik. Namun, kalaupun tetap memaksakan untuk mudik, dikarenakan rasa yang tak lagi terbendung, maka tetap menjaga protokol kesehatan dan menahan diri untuk tidak larut dalam euforia mudik menjadi harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Muh. Fajaruddin Atsnan dosen UIN Antasari Banjarmasin

Lihat juga Video: Silaturahmi Tidak Harus Mudik atau Pulang Kampung

[Gambas:Video 20detik]




(mmu/mmu)