Pembagian Takjil dan Sahur On The Road di Surabaya Dilarang, Ini Alasannya

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 16:45 WIB
Kepala Satpol PP Kota Surabaya Eddy Christijanto
Kasat Pol PP Kota Surabaya Eddy Christijanto (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Polisi akan membubarkan kegiatan sahur on the road dan bagi-bagi takjil di jalanan di Surabaya. Kegiatan tersebut berpotensi menciptakan kerumunan.

"Memang nggak boleh (selama masa pandemi COVID-19), sahur on the road, pembagian takjil di jalan kan nggak boleh, tetap kita bubarkan," ujar Waka Polrestabes Surabaya AKBP Hartoyo kepada detikcom, Rabu (14/5/2021).

Hartoyo mengatakan kegiatan tersebut selama masa pandemi lebih baik di salurkan langsung seperti di tempat yayasan yatim piatu, panti asuhan, pondok pesantren, masjid, dan lainnnya.

"Itu masih bisa disalurkan ke yayasan Yatim Piatu, pondok pesantren itu masih bisa, nggak usah di Jalan," ungkap Hartoyo.

Kasat Pol PP Kota Surabaya Eddy Christijanto mengatakan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sudah mengeluarkan surat edaran jika tidak boleh membagi takjil di jalanan yang menciptakan kerumunan.

"Jadi Pak Wali sudah membuat edaran tidak boleh membagi takjil (di jalanan), takjil supaya diserahkan ke musala atau masjid. Tapi nanti kalau ada seperti itu akan kita tertibkan, kita arahkan," ujar Eddy.

"Intinya kita tidak ada sanksi administrasi, kita edukasi kepada masyarakat untuk mengarahkan pembagian takjil di masjid sesuai surat edaran. Sahur on the road sama, kita intinya tidak ada kerumunan. Sesuai surat edaran tutup pukul 22.00 WIB, buka lagi pukul 01.00 WIB untuk rumah makan dan sebagainya, " lanjut Eddy.

Kegiatan Bazar Ramadan juga harus meminta izin ke Satgas COVID-19.

"Bazar Ramadhan sebelum pelaksanaan harus melaporkan ke Satgas COVID-19. Nanti yang menilai Satgas COVID-19," lanjut Eddy.

Eddy menjelaskan pengelola bazar diharuskan melaporkan kegiatan bazar Ramadhan terlebih dahulu ke Satgas COVID-19 Kota Surabaya, yang terdiri dari BPB Linmas, Satpol PP, Dinas Perdagangan, Kecamatan. Nanti dari hasil laporan tersebut akan dinilai kelayakannya oleh Satgas COVID-19 Kota Surabaya apakah layak digelar atau tidak.

"Jadi nanti akan kita nilai, layak atau tidak. Kalau tidak layak tidak boleh. Tapi kalau layak, artinya memenuhi protokol kesehatan, jaga jaraknya terpenuhi, minimal pengunjung bisa dibatasi artinya luas (lokasinya), kalau tidak layak tidak akan direkomendasi," ungkap Eddy.

Eddy juga meminta maaf kepada seluruh masyakarat terkait pengaturan tersebut. Sebab menurutnya dengan kegiatan tersebut dikhawatirkan muncul klaster baru.

"Jadi mohon maaf kepada warga masyarakat, kita atur semua. Supaya ya jangan sampai gara-gara (bazar) Ramadhan terjadi klaster baru," tandas Eddy.

(iwd/iwd)