Ini Eko, Juru Bahasa Isyarat di Polresta Blitar

Erliana Riady - detikNews
Jumat, 02 Apr 2021 09:47 WIB
Ada pemandangan berbeda saat rilis kasus di Mapolresta Blitar. Seorang juru bahasa isyarat tampak hadir di saat kapolresta memaparkan hasil penyelidikan kasus di depan wartawan.
Seorang juru bahasa isyarat, Eko Julianto Wibowo (berdiri)/Foto: Erliana Riady/detikcom
Blitar -

Ada pemandangan berbeda saat rilis kasus di Mapolresta Blitar. Seorang juru bahasa isyarat tampak hadir di saat kapolresta memaparkan hasil penyelidikan kasus di depan wartawan.

Hadirnya juru bahasa isyarat di media televisi, diharapkan dapat membantu penyandang difabel mengerti informasi yang disampaikan narasumber. Seperti juga yang dilakukan Eko Julianto Wibowo ini. Sejak dua pekan lalu, dia diminta Polresta Blitar menjadi juru bahasa isyarat setiap gelar rilis perkara kasus pidana.

Pria berusia 35 tahun ini tampak sangat lancar menggerakkan kedua tangganya dengan simbol-simbol bahasa isyarat. Di saat semua yang hadir di rilis itu memakai masker, Eko justru melepasnya.

"Bahasa isyarat itu tidak hanya gerakan simbol yang saya peragakan memakai kedua tangan saya. Tapi juga ekspresi wajah. Sehingga saya harus melepas masker, supaya teman-teman difabel yang nonton acara ini ketika tayang di TV bisa mengerti," tutur Eko kepada detikcom, Jumat (2/4/2021).

Guru di SLBN Kota Blitar ini mengaku ada pengalaman baru ketika diminta menjadi juru bahasa isyarat di Polresta Blitar. Dia harus banyak mempelajari bahasa isyarat kriminal dari Sistem Isyarat Buku Bahasa Indonesia (SIBI).

"Biasanya dalam keseharian mengajar, saya kan hanya bahasa isyarat pendidikan dan pengajaran ya. Kalau di sini pakai bahasa isyarat kriminal. Nah ini yang harus saya pelajari lagi," ungkapnya.

Selain belajar dari SIBI, Eko juga bertukar pikiran dengan pengajar difabel lain yang juga dilibatkan dalam rilis kasus pidana di instansi kepolisian. Sehingga mereka bisa menyatukan persepsi dan membakukan bahasa isyarat kriminal seperti petunjuk di SIBI.

"Terutama dalam motif dan pasal yang menjerat pelaku. Ini saya komunikasikan lagi dengan teman-teman lalu kami sepakat memakai isyarat seperti ini. Dan tentu ini akan makin berkembang nantinya, mengikuti beragam kasus kriminal yang dirilis pihak kepolisian," imbuhnya.

Tak hanya itu. Satu lagi hal yang membuat Eko senang dilibatkan dalam rilis kasus pidana adalah, dia bisa menyampaikan kepada keluarga terdekatnya ataupun siswa didiknya. Bagaimana menangkal dan menghadapi potensi tindak pidana yang terjadi kepada diri mereka ataupun lingkungan di sekitarnya.

"Dalam beberapa kasus, kaum difabel adalah korbannya. Sedangkan pelaku, kebanyakan justru orang dekat atau orang di sekitarnya. Saya jadi bisa memberitahu mereka untuk hati-hati. Atau bagaimana menghadapinya jika mereka berpotensi menjadi korban," pungkasnya.

Lihat juga video 'Mengenal 'Hear Me', Penerjemah Bahasa Isyarat Bertampilan 3D':

[Gambas:Video 20detik]



(sun/bdh)