Fakta Baru Penggerebekan Karaoke Next KTV yang Diduga Sediakan Prostitusi

Amir Baihaqi - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 15:35 WIB
prostitusi karaoke
Polisi rilis kasus praktik prostitusi yang libatkan karaoke dan hotel (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya -

Praktik prostitusi di karaoke Next KTV di Kota Blitar dibongkar polisi. Ternyata kasus ini juga melibatkan TKP lain yakni hotel. Dalam kasus ini seorang muncikari ditetapkan sebagai tersangka.

Tersangka adalah IS (39) alias Bunda warga Bendosari Kota Blitar. Saat dihadirkan dalam jumpa pers di Polda Jatim, ia disebut mempunyai peran sebagai penjual ladies companion (LC) atau pemandu lagu ke pria hidung belang.

Terbongkarnya praktik prostitusi berkedok tempat karaoke itu berkat informasi masyarakat. Atas dasar laporan itu, polisi kemudian melakukan penggerebekan di Next KTV di Jalan Veteran Kota Blitar.

Penggerebekan dilakukan pada Rabu (10/3) sekitar pukul 00.30 di Next KTV. Tak hanya di tempat karaoke, polisi juga melakukan penggerebekan di Patria Palace Hotel yang berada di Jalan Mastrip Kota Blitar.

"Penggerebekan Berdasarkan informasi masyarakat selanjutnya kita tindak lanjuti. Karena pada saat ini kita masih melakukan penerapan PPKM sehingga menindaklanjuti secara cepat," ujar Wadirkrimum Polda Jatim AKBP Nasrun Pasaribu kepada wartawan, Jumat (19/3/2021).

prostitusi karaokeFoto: Amir Baihaqi

"Saat petugas mendatangi lokasi karaoke untuk dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan petugas mendapati dua orang pria dan perempuan keluar dari karaoke. Petugas kemudian membuntuti dan menuju hotel," imbuhnya.

Dari hotel itu, lanjut Nasrun, pihaknya mendapati barang bukti kondom bekas pakai. Tak hanya itu, polisi juga mendapati satu orang laki-laki dan perempuan sedang telanjang usai berhubungan badan di dalam kamar hotel tersebut.

"Setelah kita tanya si perempuan mengaku sebagai LC di karaoke tadi. Dan kita kemudian melakukan penggeledahan lagi di karaoke dan akhirnya kami mintai keterangan sejumlah saksi," tutur Nasrun.

"Setelah kami periksa sejumlah saksi. Kami kemudian menetapkan Bunda ini sebagai tersangka sebagai penyedia praktik prostitusi," ujar Nasrun.

"Keterangan tersangka menjadi muncikari belum lama. Alasannya karena faktor ekonomi saja," tambah Nasrun.

Dikatakan Nasrun, dalam setiap transaksi, tersangka mematok tarif dari 1 juta hingga Rp 800 ribu. Sedangkan ia mendapat bagian sekitar 20 sampai 30 persen.

"Tarifnya fleksibel ya. Dari Rp 1 juta hingga Rp 800 ribu. Yang didapat tersangka ini sekitar 20 persen sampau 30 persen itu," tukas Nasrun.

Atas perbuatannya, tersangka kini dijerat Pasal 296 dan Pasal 506. Ancaman hukumannya yakni sekitar 1 tahun dan empat bulan.

(iwd/iwd)