Rampogan Macan, Tradisi Menombak Harimau Beramai-ramai di Blitar Tempo Dulu

Erliana Riady - detikNews
Minggu, 14 Mar 2021 17:27 WIB
Zaman dulu Blitar punya tradisi Rampogan Macan. Tradisi ini sebagai tolak bala agar Blitar terhindar dari wabah dan erupsi Gunung Kelud.
Rampogan Macan/Foto: Istimewa
Blitar -

Zaman dulu Blitar punya tradisi Rampogan Macan. Tradisi ini sebagai tolak bala agar Blitar terhindar dari wabah dan erupsi Gunung Kelud.

Pemerhati sejarah dan situs purbakala asli Blitar, Ferry Riyandika mengatakan, dalam buku yang ditulis R Kartawibawa, ritual Rampokan Macan mulai digelar di Blitar pada 1880. Pemerintahan saat itu resah dengan keluhan masyarakat Blitar Selatan akan serangan harimau yang memangsa ternak (rojo koyo) milik mereka.

Sebagaimana namanya, harimau Jawa merupakan karnivora terbesar yang pernah menjadi penghuni Pulau Jawa. Dalam persebarannya, hewan ini pernah ditemukan di Jampang Kulon, Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Pangrango, Yogyakarta, Probolinggo, Blitar, Banyuwangi, Tulungagung, hingga Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur.

"Pada setelah tahun 1860 itu memang ada pembangunan pabrik gula di kawasan Panggungrejo dan penebangan pohon jati diubah menjadi lahan tebu di kawasan Gunung Betet Lodoyo. Padahal daerah itu merupakan habitat harimau Jawa. Karena habitat harimau terusik, kemudian memangsa ternak warga," kata Ferry kepada detikcom, Minggu (14/3/2021).

Untuk mengatasinya, pemerintah kemudian menggelar sayembara. Siapa yang bisa membunuh atau menangkap harimau, akan dibayar sebesar 10-50 gulden. Sehingga mereka kemudian membuat acara Rampogan Macan, yang menjadi tradisi sejak abad ke-17 di wilayah kekuasaan Mataram. Yakni pada masa pemerintahan raja Amangkurat II.
Tahun 1783, dalam buku History of Java ditulis, berita Raffles mengatakan pertunjukan agung rampog oleh orang Jawa.

Di zaman Mataram, ada dua babak dalam tradisi ini. Babak pertama, banteng atau lembu melawan harimau. Dan babak kedua, antara kerumunan manusia berhadapan dengan harimau. Namun pada masa selanjutnya, babak pertama dihilangkan dan langsung digelar babak kedua.

"Istilah rampog atau rampak sendiri, dalam kamus Bahasa Jawa baru berarti menyerang dengan jumlah besar. Karena dalam Rampokan Macam ini memang harimau berhadapan dengan banyak orang yang memegang tombak atau senjata lainnya," ungkap alumni Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Dalam kutipan buku 'Bakdo Mawi Rampok' yang ditulis R Kartawibawa, "Menjelang djam 11.00 pagi, Yang Mulia Kandjeng Bupati Warso Koesomo, Patih Djojodigdo dan Mantri Kabupaten Blitar masuk barisan. Bupati naik kuda Dawuk memutari barisan, demikian juga Patih Djojodigdo naik kuda putih jantan (ini disebut Kitter)".

Buku ini diterbitkan Balai Pustaka (Bale-Poestaka) pada tahun 1923, dipindai oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Djoko Luknanto dan diunggah di situs staff UGM.

Kutipan itu merupakan kesaksian R Kartawibawa melihat sendiri tradisi Rampogan Macan yang digelar di tengah Alon-alon Blitar. Tradisi yang digelar rutin pada hari ke tujuh usai Lebaran atau Lebaran Kupat ini selalu dinanti-nanti warga.

Selanjutnya
Halaman
1 2