Bupati Trenggalek Tolak Tambang Emas

Adhar Muttaqin - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 13:40 WIB
Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin
Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin (Foto: Adhar Muttaqin/detikcom)
Trenggalek -

Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin menolak rencana aktivitas tambang emas di wilayahnya. Sebab, dinilai menabrak sejumlah aturan dan mengancam kelestarian alam.

Pernyataan itu disampaikan Bupati Trenggalek menyusul polemik di masyarakat pascakeluarnya Izin Usaha Pertambangan (IUP) nomor P2T/57/15/.02/VI/2019, kepada PT Sumber Mineral Nusantara untuk menjalankan aktivitas produksi/eksploitasi tambang emas di Trenggalek. Izin produksi itu berlaku mulai selama 10 tahun, terhitung mulai 24 Juni 2019 hingga 24 Juni 2029.

"Sikap saya menolak penambangan emas. Kalau masalah administratif, pemberian izin dan sebagainya ya kami persilakan, tetapi untuk menambang nanti dulu," kata Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin, Rabu (10/3/2021).

Penolakan Bupati didasarkan berbagai pertimbangan. Mulai dari ekonomi, ekologi, hingga dampak sosial bagi masyarakat di Trenggalek. Beberapa persoalan yang dinilai janggal telah terjadi sejak proses eksplorasi berlangsung. Kala itu, saat masih menjabat sebagai Wakil Bupati Trenggalek, dia sempat melakukan pendampingan, bahkan mendukung upaya PT SMN melakukan eksplorasi.

"Saya mendukung karena kami pun ingin tahu seperti apa potensi sumber daya Trenggalek ini sejauh mana, kemudian sejauh mana visibilitasnya untuk ditambang. Kemudian bagaimana nanti kontribusinya terhadap masyarakat, tapi kan kajian itu sampai sekarang belum ada," ujarnya.

Pihaknya kala itu juga sempat melakukan upaya mediasi sejumlah warga di Dongko dan Dukuh yang bersikukuh menolak aktivitas eksplorasi. Sedangkan Bupati Trenggalek saat itu Emil Dardak memberikan rekomendasi asalkan masyarakat menyetujui.

"Karena kalau eksplorasi tidak merusak dan tidak mengeruk," jelasnya.

Setelah kejadian itu, pihaknya sama sekali tidak ada komunikasi dengan PT SMN, selaku pihak yang melakukan eksplorasi. Namun tiba-tiba muncul izin untuk melakukan eksploitasi atau produksi tambang emas.

Bahkan, kata dia, yang bikin jengkel adalah masuknya Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo dan Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko di alam peta eksploitasi. Padahal pada tahap eksplorasi telah terjadi penolakan. "Artinya analisis dampak sosialnya tidak masuk, jadi kayak nggak masuk akal gitu lo," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2