Menelusuri Rantai Distribusi Sindikat Perdagangan Obat Aborsi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 09 Mar 2021 21:38 WIB
Sindikat perdagangan obat aborsi yang digulung Polres Mojokerto bekerja secara terstruktur. Mulai dari importir hingga ke pengecer.
Jumpa pers Polres Mojokerto/Foto file: Enggran Eko Budianto/detikcom
Mojokerto -

Sindikat perdagangan obat aborsi yang digulung Polres Mojokerto bekerja secara terstruktur. Mulai dari importir hingga ke pengecer.

Untuk sampai ke konsumen, obat aborsi merek Cytotec itu melalui rantai distribusi yang lumayan panjang. Yakni berpindah ke 8 tangan berbeda yang menjadi anggota sindikat perdagangan gelap tersebut.

Obat berbahaya tersebut diimpor dari Australia oleh pria berinisial DP, warga Pluit, Jakarta Utara. Pria yang sudah masuk daftar pencarian orang (DPO) polisi ini memasok Cytotec dalam jumlah besar ke Jong Fuk Liong alias Jon (43), warga Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Tim Resmob Satreskrim Polres Mojokerto meringkus Jon di rumahnya pada Minggu (28/2) sekitar pukul 04.00 WIB. Sales alat kesehatan ini mengaku dua kali memasok pil Cytotec ke Ernawati (50), warga Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Yaitu 448 boks obat aborsi pada 23 November 2020 dan 200 boks pada 10 Januari 2021. Jon menjual obat aborsi ke pemilik toko obat Tulus di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur tersebut seharga Rp 950 ribu. Setiap boks berisi 12 strip atau 120 butir Cytotec. Sehingga dari Jon, setiap butir obat penggugur kandungan itu hanya seharga Rp 7.916.

"Setiap boks Jon mendapatkan keuntungan Rp 50.000. Sehingga dari 648 boks yang dia jual ke Ernawati, tersangka untung Rp 32,4 juta," kata Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (9/3/2021).

Ernawati diciduk polisi di toko obat miliknya pada Jumat (26/2) sekitar pukul 16.00 WIB. Dari dia, obat aborsi berpindah tangan ke Supardi (53), sales obat freelance warga Manunggal Bakti, Pasar Rebo, Jakarta Timur.