Cerita Tentang Mohammad Hatta yang Pernah Naik Kapal van der Wijck

Eko Sudjarwo - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 13:58 WIB
Perairan pantai utara (pantura) Lamongan diduga menyimpan harta karun. Salah satunya bangkai Kapal van der Wijck yang tenggelam di Perairan Brondong pada 1936.
Monumen Peringatan Tenggelamnya Kapal van der Wijck/Foto file: Eko Sudjarwo/detikcom
Lamongan -

Kapal van der Wijck yang tenggelam di Perairan Brondong, Lamongan pada 1936 disebut-sebut sebagai harta karun bawah laut. Namun terlepas dari itu, ada cerita lain dari kapal tersebut.

Pemerhati sejarah Lamongan M Navis mengungkapkan, Kapal van der Wijck tercatat dalam memoar karya salah satu proklamator yaitu Mohammad Hatta. Bersama Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta naik Kapal van der Wijck dari Makassar ke Ambon, dalam perjalanan pembuangan mereka ke Boven Digul.

"Sesudah seminggu dalam bui Makassar, kami dinaikkan ke kapal KPM van der Wijck menuju Ambon," tulis Mohammad Hatta dalam memoarnya yang dibacakan M Navis, Senin (8/3/2021).

Navis menambahkan, peristiwa tenggelamnya Kapal van der Wijck di Perairan Brondong, Lamongan pada 1936 tidak hanya menjadi perhatian media berbahasa Indonesia saja kala itu. Media-media berbahasa Belanda dan media-media asing juga mengabarkan peristiwa tenggelamnya kapal yang menjadi judul novel karya Buya Hamka ini.

"Media-media kala itu juga menuliskan peristiwa tenggelamnya kapal mewah ini, seperti media berbahasa Inggris di Australia," imbuhnya.

Menurut Navis, Kapal van der Wijck adalah kapal nyata dan peristiwa yang menimpa kapal ini juga bukan dongeng semata. "Kapal itu pernah beroperasi pada masa Hindia Belanda dan menghubungkan pulau-pulau di Nusantara," lanjutnya.

Kini, bangkai Kapal van der Wijck disebut-sebut sebagai harta karun bawah laut. Meski keberadaannya di perairan Lamongan masih menjadi misteri.

"Lamongan juga ada 'harta karun' laut dari kapal, yaitu Kapal van der Wijck yang tenggelam pada 20 November 1936 saat masa kolonial Belanda," terang Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan, Mifta Alamuddin.

(sun/bdh)