Melihat Lebih Dekat Monumen Tenggelamnya Kapal van der Wijck di Lamongan

Eko Sudjarwo - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 12:44 WIB
Perairan pantai utara (pantura) Lamongan diduga menyimpan harta karun. Salah satunya bangkai Kapal van der Wijck yang tenggelam di Perairan Brondong pada 1936.
Monumen Peringatan Tenggelamnya Kapal van der Wijck/Foto file: Eko Sudjarwo/detikcom
Lamongan -

Kapal van der Wijck yang tenggelam di Perairan Brondong, Lamongan pada 1936 disebut-sebut sebagai harta karun bawah laut. Peristiwa tenggelamnya kapal tersebut ditandai dengan berdirinya sebuah monumen.

Monumen peringatan tenggelamnya Kapal van der Wijck berada di Pelabuhan Nusantara Brondong. Tugu tersebut, kata Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan Mifta Alamuddin, berada di lokasi yang dulunya diduga sebagai tempat evakuasi korban kapal.

"Tugu atau monumen itu dibangun sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada para nelayan setempat yang telah menolong para korban kecelakaan Kapal van der Wijck," terang Mifta, Senin (8/3/2021).


Monumen tersebut bersusun 3 lantai. Di lantai 2 terdapat balkon yang menghadap ke arah laut. Sementara bangunannya berukuran sekitar 2,5 meter x 3 meter dengan tinggi 10 meter.

Dua buah plakat tertempel di kedua sisi bangunan dengan Bahasa Belanda dan Indonesia ejaan lama. "Tanda Peringatan kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktoe Tenggelamnja Kapal van der Wijck DDC 19-20 Oktober 1936," demikian tulisan dalam plakat itu yang berada di sisi barat.

Untuk plakat yang Berbahasa Belanda berada di baliknya atau di sebelah timur monumen. Tertulis dalam plakat itu 'Martinus Jacobus Uytererk Radiotelegrafist Aan Boord S.S Van Der Wijck 20 Oktober 1936 Hij Bleef Getrouw Tot In Den Dood Zijn Nagedachtenis Zij Eere. Zijne Vrienden'.

"Kalau kewenangan dinas kabupaten saat ini mungkin hanya sebatas pelestarian monumen/tugu peringatan tersebut," tutur Mifta.

Ke depan, lanjut Mifta, masih direncanakan untuk ditata ulang menjadi semacam taman yang mudah diakses dan dikunjungi masyarakat. Penanganan tugu atau monumen ini pun, aku Mifta, lintas sektoral karena lokasi monumen yang berada di kawasan Pelabuhan Nusantara Brondong. Tugu atau Monumen van der Wijck ini masih kerap mendapat kunjungan masyarakat. Termasuk para pelajar yang ingin belajar sejarah atau baru saja membaca novel karya Buya Hamka, berjudul Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Sebelumnya, Mifta juga menyampaikan, Kapal van der Wijck yang tenggelam di perairan pantai utara (pantura) Lamongan ini sebagai harta karun bawah laut. Bahkan, kerap ada pihak yang mencoba mencari bangkai kapal tersebut.

"Lamongan juga ada 'harta karun' laut dari kapal, yaitu Kapal van der Wijck yang tenggelam pada 20 November 1936 saat masa kolonial Belanda," terangnya.

(sun/bdh)