Batu Dolmen di Bondowoso Selalu Membujur dari Timur ke Barat, Ini Jawabannya

Chuk S Widarsha - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 09:34 WIB
batu dolmen di bondowoso
Salah satu batu dolmen di Bondowoso (Foto: Chuk S Widarsha)
Bondowoso - Batu Dolmen banyak ditemukan di wilayah Pujer, Bondowoso. Menariknya, hampir semua batu Dolmen itu orientasi arahnya membujur dari arah timur ke barat. Mengapa demikian?

"Dolmen di kawasan ini orientasi menghadapnya kebanyakan memang ke arah gunung," jelas seorang budayawan yang juga tim ahli bidang culture Ijen Geopark, Tantri Raras, saat berbincang dengan detikcom di lokasi, Senin (8/3/2021).

Sebab, kata Tantri, bisa jadi karena di sebelah timur merupakan gunung Ijen Purba dan di sebelah barat gunung Argopuro. Peradaban prasejarah masih menganut kepercayaan dinamisme maupun animisme.

"Dan di zaman itu orang masih menempatkan gunung sebagai pusat bersemayamnya roh leluhur. Secara geografis, Bondowoso diapit oleh 2 gunung. Yakni Gunung Argopuro sebelah barat, dan Ijen Purba atau Raung di sebelah timur," papar Tantri.

Batu Dolmen merupakan benda peninggalan zaman prasejarah, yakni era megalitikum. Tak ditemukan sedikitpun tulisan sebagai penanda. Karena di zaman itu memang belum mengenal tulisan atau praaksara. Juga disebut nirleka (Nir artinya tidak ada, leka artinya tulisan).

Batu Dolmen merupakan salah satu benda peninggalan purbakala zaman prasejarah. Bentuknya berupa meja batu dengan tiang menyangga juga dari batu. Batu ini merupakan tempat meletakkan sesajian untuk pemujaan pada roh leluhur.

Di bawahnya biasanya berupa kubur batu. Berfungsi untuk meletakkan mayat agar terlindung dari ancaman binatang buas. Bagian kaki mejanya diperbanyak, hingga mayat tertutup rapat oleh batu.

Di wilayah Pujer tersebut, batu Dolmen terbuat dari batuan jenis andesit basaltis. Jenis batu ini diperkirakan bekas letusan Gunung Ijen Purba yang berdasarkan sejumlah literasi meletus sekitar 70 ribu tahun yang lalu.

Di wilayah Bondowoso sendiri memang banyak terdapat situs maupun benda-benda peninggalan zaman prasejarah yang tersebar di sejumlah kecamatan. Di antaranya Grujugan, Cermee, Wringin, Tamankrocok, Maesan, Tlogosari, Pujer, dan lainnya.

Khusus untuk batu Dolmen, memang tersentral di Kecamatan Pujer. Jumlahnya sebanyak 75 buah. Dari jumlah tersebut, 58 buah di antaranya ada di Desa Maskuning Kulon. Diperkirakan, di wilayah tersebut masih banyak batu Dolmen yang belum terdata.

Kawasan itu juga diajukan sebagai salah satu item dalam pengajuan ke UNESCO Global Geopark (UGG) bidang culture dan geologi, sebagai Ijen Geopark yang ada di dua wilayah, yakni Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi. (iwd/iwd)