Khofifah Soroti Angka Kematian Ibu dan Bayi, Ini Kata Wali Kota Eri Cahyadi

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 20:26 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memiliki tiga progam prioritas untuk 100 hari pertama. Salah satunya soal layanan kesehatan gratis untuk warga Surabaya.
Wali Kota Eri Cahyadi/Foto: Deny Prastyo Utomo/detikcom
Surabaya -

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyoroti angka kematian ibu dan bayi di Surabaya. Masuk lima besar di Jawa Timur.

Namun sebelum itu Khofifah menyebut, index pembangunan manusia (IPM) Kota Surabaya tertinggi di Jawa Timur. "Beberapa hal yang menjadi kekuatan Surabaya, IPM Surabaya sangat tinggi sekali 82 persen. Kemudian di Sampang itu baru index-nya 62. Karena itu saya ingin mengajak semacam sister city lah," kata Khofifah usai menyaksikan sertijab Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di DPRD Surabaya, Senin (1/3/2021).

Khofifah ingin, SDM dari Surabaya hadir di Kabupaten Sampang, untuk support percepatan penguatan IPM di Sampang. Hal tersebut juga sempat dipaparkan oleh Khofifah saat rapat paripurna di DPRD Kota Surabaya.

Namun menurut Gubernur Khofifah, ada beberapa yang harus ditekan di Surabaya. Yakni angka kematian ibu dan angka kematian bayi serta stunting.

"Pak Presiden itu melihat peningkatan kwalitas SDM, sekaligus daya saing. Satu, dari angka kematian ibu (AKI). Dua, angka kematian bayi (AKB). Tiga, stunting. Stuntingnya Surabaya sudah jauh di bawah Jawa Timur. Tetapi AKI dan AKB ini memang masih masuk lima besar," ungkap Khofifah.

"Oleh karena itu, menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Surabaya, ini memang harus dilakukan intervensi secara detail dan mungkin dengan sinergitas lebih komprehensif. Saya rasa dengan sinergitas akan memberikan penurunan lebih signifikan angka kematian ibu dan angka kematian bayi," tambahnya.

Dalam pemaparan Gubernur Khofifah saat rapat paripurna di DPRD Surabaya, angka kematian bayi di Surabaya mencapai 208 atau nomor dua setelah Jember yang mencapai 324. Sedangkan angka kematian ibu di Surabaya mencapai 24 orang, atau nomor empat setelah Malang yang mencapai 25, Bojonegoro sebanyak 29 dan Jember sebanyak 61.

Lalu bagaimana tanggapan Wali Kota Eri Cahyadi? "Sebenarnya begini, tadi disampaikan Bu Gubernur ada kematian ibu ada kematian bayi ya. Kita lihat kematian bayi dan kematian ibu apakah dia memang orang Surabaya asli. Atau memang dia waktu melahirkan udah empat bulan datang ke Surabaya. Setelah itu menjadi KTP Surabaya," kata Eri kepada wartawan usai sertijab di DPRD Kota Surabaya, Senin (1/3/2021).

"Dan selalu saya katakan, apakah itu sempurna datanya? Tidak pernah sempurna. Pemerintah kota juga tidak sempurna. Provinsi juga mungkin nggak sempurna. Tapi apa yang dicatat dari Bu Gubernur tadi adalah bagaimana sinergi," imbuh Eri.

Selanjutnya
Halaman
1 2