Menelusuri Bekas Letusan Gunung Ijen Purba yang Indah di Bondowoso

Chuk Shatu Widarsha - detikNews
Minggu, 21 Feb 2021 12:11 WIB
Kawah Ijen maupun Kawah Wurung di Bondowoso, keindahannya tak ada yang meragukan. Tapi, taukah Anda jika dua kawasan itu merupakan sisa letusan Gunung Ijen Purba sekitar 300 ribu tahun lalu?
Bekas letusan Gunung Ijen Purba/Foto: Chuk Shatu Widarsha
Bondowoso -

Kawah Ijen maupun Kawah Wurung di Bondowoso, keindahannya tak ada yang meragukan. Tapi, taukah Anda jika dua kawasan itu merupakan sisa letusan Gunung Ijen Purba sekitar 300 ribu tahun lalu?

Dari beberapa literatur ilmiah, Gunung Ijen Purba diperkirakan terbentuk sekitar 700.000 tahun lalu, memiliki ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pembentukan Gunung Ijen Purba ditandai oleh pengendapan lapisan satuan batuan kerucut lapis pra kaldera. Kerucut lapis itu tersusun oleh perlapisan endapan-endapan aliran piroklastik, aliran lava, dan jatuhan piroklastik.

"Berdasarkan sejumlah literatur geologi, sekitar 70.000 tahun yang lalu Gunung Api Ijen Purba mengalami erupsi super eksplosif," tutur seorang geologist, Jadi Harjono, saat berbincang dengan detikcom di Bondowoso, Minggu (21/2/2021).

Kawah Ijen maupun Kawah Wurung di Bondowoso, keindahannya tak ada yang meragukan. Tapi, taukah Anda jika dua kawasan itu merupakan sisa letusan Gunung Ijen Purba sekitar 300 ribu tahun lalu?Bekas letusan Gunung Ijen Purba/ Foto: Chuk Shatu Widarsha

Erupsi super eksplosif itu, sambungnya, melontarkan hingga sekitar 466 km material vulkanik yang dominan menuju arah utara. Erupsi eksplosif ini kemudian membuat dapur magma kosong dan mengakibatkan terjadinya amblasan sehingga membentuk depresi kaldera.

"Kaldera Ijen kemudian terisi oleh air dan menjadi danau dan rawa-rawa pada 60.000-50.000 tahun yang lalu yang mengendapkan hasil erosi material vulkanik," papar alumni Fakultas Teknik Geologi, ITB Bandung ini.

Rekahan tektonik ini kemudian tererosi, membobol dinding kaldera, dan menjadi jalur Air Rerjun Blawan dan Sungai Banyupahit, sekaligus membuat danau purba di Kaldera Ijen mengering. Luasnya mencapai 220 km persegi, dengan diameter 15-20 km.

Pascaerupsi eksplosif Gunung Api Ijen Purba kemudian terbentuk lah kaldera itu lantas muncul beberapa gunung api. Jumlahnya mencapai 22 gunung api. Tersebar di dinding (cincin) kaldera dan dalam kaldera yang sudah mengering.

Kawah Ijen maupun Kawah Wurung di Bondowoso, keindahannya tak ada yang meragukan. Tapi, taukah Anda jika dua kawasan itu merupakan sisa letusan Gunung Ijen Purba sekitar 300 ribu tahun lalu?Bekas letusan Gunung Ijen Purba Foto: Chuk Shatu Widarsha

Adapun gunung api yang di dinding kaldera yakni Gunung Merapi, Suket, Jampit, Ringgih, Pawenan, serta Rante. Sementara yang di dalam kaldera diantaranya gunung Kawah Wurung, Blau, Papak, Kukusan, serta Ijen dan lainnya.

Kecuali Kawah Ijen yang sudah mendunia hingga saat ini, semua gunung hasil letusan Gunung Api Ijen Purba itu sekarang sudah tidak aktif. Yang tersisa hanyalah keindahan dan eksotisme alam.

"Karena kekayaan geologi itulah, kami lantas mengajukan kawasan Ijen itu sebagai taman bumi," kata Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark, Arif Setyo Raharjo.

Taman Bumi itu diajukan dalam UNESCO Global Geopark (UGG) bernama Ijen Geopark. Selain geologi site, juga biology site, dan culture site. Mencakup Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi.

Saksikan juga 'Jelajah Gunung Ijen, Situbondo':

[Gambas:Video 20detik]



(sun/bdh)