Kilas Balik Pembantaian Dukun Santet

Cerita Bocornya Radiogram Bupati Picu Pembantaian Dukun Santet Banyuwangi di Tahun 1998

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 13:47 WIB
pembantaian dukun santet di banyuwangi
Aksi demo dukun santet di Banyuwangi di tahun 1998 (Foto: Istimewa)
Banyuwangi -

Deklarasi Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) Indonesia di Banyuwangi membetot perhatian nasional. Muncul pula ingatan soal kisah kelam di negeri ini, saat isu dukun santet membuat sejumlah orang dibantai di Banyuwangi.

Geger dukun santet sehingga menyebabkan banyaknya orang yang diduga memiliki ilmu hitam di Banyuwangi dibantai di tahun 1998 juga dipicu dengan bocornya salinan pendataan dukun santet. Pemkab Banyuwangi pada masa kepemimpinan Bupati Turyono Purnomo Sidik, mengeluarkan radiogram kepada unsur di bawahnya, untuk melindungi orang yang diduga dukun santet.

Namun sayang, data yang sudah dikumpulkan itu justru menjadi data bagi para provokator untuk menggerakkan massa yang dilakukan dengan membantai para dukun santet tersebut semakin masif.

Dari salinan radiogram yang tercantum di buku Geger Santet Banyuwangi terbitan Institut Studi Arus Informasi (ISAI), tertulis, radiogram itu diterbitkan 6 Februari 1998, dengan Nomor: 300/70/439.013/1998 oleh Bupati pada saat itu, Turyono Purnomo Sidik, purnawirawan TNI Angkatan Darat. Radiogram berkategori penting itu ditujukan kepada seluruh camat dan pembantu bupati yang ada di Kabupaten Banyuwangi.

Adapun isinya menginstruksikan para camat dan Muspika untuk mencegah sedini mungkin terjadinya peristiwa pengrusakan terkait isu dukun santet. Para camat juga diminta mengimbau melalui kepala desa, RW, dan RT, apabila ada warga yang pernah dituduh masyarakat sebagai tukang santet, supaya mengamankan diri atau pindah ke tempat lain. Selain itu, melaporkan setiap kejadian ke Pos Kodal Tibwil.

Radiogram ini diterbitkan pascapembunuhan dukun santet bernama Sumarno alias Pak No, warga Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, 4 Februari 1998, dan beberapa kasus serupa setelahnya. Belakangan, buntut radiogram itu berkembang liar di masyarakat. Beberapa nama yang didata sebagai dukun santet bocor dan warga seolah-olah mendapat tugas dari negara untuk mengenyahkan dukun santet di lingkungan mereka.

"Setidaknya ada 2 radiogram yang dikeluarkan. Tapi saya lupa nomer berapa. Dan itu ditangkap oleh masyarakat sebagai legitimasi pembantaian itu. Sehingga terjadi pergerakan massa kembali melakukan pembantaian dukun santet," ujar Bahrurrohim, Ketua Komunitas Pegon Banyuwangi kepada detikcom, Rabu (10/2/2021).

Bahrurrohim mengatakan siapa-siapa orang yang diduga dukun santet itu malah dipegang oleh kepala dusun dan hansip yang kemudian dipanasi oleh provokator untuk melakukan tindakan anarkis. Pesan radiogram bupati pun berujung maut bagi Muhammad Yasin, warga Kampung Krajan, Desa Watukebo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Pria 70 tahun itu tewas dianiaya karena dianggap sebagai dukun santet pada 15 September 1998.