Urban Legend

Rowo Bayu Jadi Pusat Peringatan Hari Jadi Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Minggu, 07 Feb 2021 13:08 WIB
Rowo Bayu, Tempat Angker Yang Merupakan Lokasi Perang Puputan Bayu
Salah satu ritual di Telaga Rowo Bayu (Foto: Ardian Fanani/detikcom)
Banyuwangi -

Rowo Bayu merupakan pusat dari perayaan peringatan Hari Jadi Banyuwangi. Tepat tanggal 18 Desember 1771, perang puputan bayu terjadi. Warga Banyuwangi melakukan perjuangan melawan VOC habis-habisan hingga tak tersisa.

Pemkab Banyuwangi menetapkan hari jadi dari dasar perang Puputan Bayu sebagai hari jadi Banyuwangi (Harjaba). Pengesahan dilakukan Pemkab dan DPRD Banyuwangi. Sejak itulah Rowo Bayu menjadi pusat perayaan Hari Jadi Banyuwangi.

Selama kepemimpinan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, kegiatan ini dirangkum menjadi Festival Rowo Bayu. Berbagai kegiatan perayaan hingga ritual khusus juga dilakukan diajang yang sudah digelar kali kedua ini. Namun untuk tahun ini, diprediksi hanya kegiatan inti yang dilakukan karena masa pandemi COVID-19.

Pada tahun 2019 lalu kegiatan Festival Rowo Bayu digelar secara semarak. Dan dua tahun lalu, dikaitkan dengan 'KKN Desa Penari'. Acara tersebut diawali dengan malam renungan berisi doa bersama dan tasyakuran hingga renungan suci di kawasan Rowo Bayu, Kecamatan Songgon. Pemilihan Rowo Bayu sebagai tempat perenungan bukan tanpa alasan. Di tempat tersebut, pada rentang waktu 1771-1772 menjadi saksi bisu kegigihan rakyat Blambangan mempertahankan tanah airnya dari gempuran penjajah. Dari rangkaian perjuangan itulah, lantas menjadi momentum lahirnya Kabupaten Banyuwangi.

Tak hanya doa bersama dan tasyakuran, dalam festival ini juga digelar napak tilas. Mereka menyusuri rute sepanjang 10 Km yang menjadi jalur perang Puputan Bayu. Dimulai dari Desa Parangharjo menuju hutan Rowo Bayu yang diyakini menjadi lokasi perang besar tersebut.

Warga Songgon pun menyambut antusias tradisi ini. Sepanjang rute yang dilalui peserta, warga dengan sukarela menyiapkan makanan dan minuman ringan yang bisa dinikmati secara gratis oleh para peserta napak tilas. Makanan tradisional seperti ubi, talas, jagung dan kacang rebus hingga bubur ketan hitam.

Selanjutnya
Halaman
1 2