Urban Legend

Mitos Klakson Kendaraan dan Sesaji untuk Watu Blorok di Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Minggu, 03 Jan 2021 13:57 WIB
watu blorok
Watu Blorok di Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Watu Blorok di Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto menyimpan legenda sekaligus mitos yang diyakini masyarakat sekitar hingga saat ini. Batu ini dianggap keramat sehingga masih menjadi tempat ritual untuk berbagai tujuan.

Watu Blorok berada persis di tepi jalan penghubung Mojokerto dengan Gresik. Tepatnya sekitar 100 meter dari permukiman penduduk Dusun Pasinan, Desa Kupang. Tak sedikit pengendara membunyikan klakson saat melewati batu tersebut.

"Membunyikan klakson sudah menjadi kebiasaan warga sini saat lewat Watu Blorok. Itu sebagai tanda permisi ke para penghuni yang tidak kasat mata," kata Musawamah (42), warga Dusun Pasinan saat berbincang dengan detikcom, Jumat (18/12/2020).

Musawamah menjelaskan masyarakat Kupang masih meyakini mitos keangkeran Watu Blorok dan hutan di sekitarnya. Kawasan hutan tersebut juga dinamai dengan Watu Blorok. Sejumlah kecelakaan di jalur yang membelah hutan itu diyakini karena gangguan makhluk gaib.

watu blorokWatu Blorok berlokasi di pinggir jalan raya (Foto: Enggran Eko Budianto)

"Ada yang mengaku setirnya direbut makhluk gaib hingga celaka, ada juga yang terjatuh karena mengindari bayangan putih yang melintas. Biasanya karena lewat tidak permisi," ujar ibu dua anak ini.

Di era modern saat ini, lanjut Musawamah, masih banyak orang yang menggelar ritual di Watu Blorok dengan beragam tujuan. Sisa-sisa ritual memang nampak di lokasi. Mulai dari kembang yang berceceran di atas batu, hingga dupa yang belum habis terbakar.

Warga setempat juga memegang tradisi serupa. Rombongan pengantin biasa melempar uang koin atau ayam saat melintasi Watu Blorok supaya selamat sampai tujuan. Selain itu, warga yang menggelar hajatan biasa mengirim sesaji ke Watu Blorok agar acaranya lancar dan keluarganya selamat.

"Bukannya musyrik, tapi menghormati nenek moyang. Keberadaan kita saat ini karena para pendahulu kita," terangnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2