COVID-19 di Jatim Meningkat, IDI: Bulan Ini Lebih Mengerikan dari Sebelumnya

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 22 Des 2020 12:13 WIB
Pro kontra rencana salat Idul Fitri di Masjid Al Akbar Surabaya mendapat respons dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim. IDI berharap tidak ada kegiatan yang berpotensi menciptakan kerumunan, termasuk salat Id.
Ketua IDI Jatim DR dr Sutrisno SpOG (K)/Foto: Faiq Azmi
Surabaya -

Kasus COVID-19 di Jatim terus meningkat setiap harinya. Dari data https://infocovid19.jatimprov.go.id, per 12 Desember 2020 terdapat penambahan 837 kasus.

Ketua IDI Jatim DR dr Sutrisno SpOG (K) menyebut kasus COVID-19 di Jatim di akhir tahun ini lebih mengerikan dari pada sebelumnya. Pasalnya, banyak masyarakat yang sudah mengabaikan protokol kesehatan.

"Kesimpulan saya, bulan ini lebih mengerikan dari bulan sebelumnya. Untuk kita yang di RS ini sungguh lebih mengerikan dari bulan-bulan sebelumnya. Jadi ini naik tajam," kata Sutrisno saat dihubungi detikcom, Selasa (22/12/2020).

"Yang perlu disampaikan, ini lebih mengerikan dari bulan-bulan sebelumnya bagi kita yang tahu (kondisi di RS)," tambahnya.

Menurut Sutrisno, banyak faktor yang membuat COVID-19 semakin melonjak. Selain mengabaikan protokol kesehatan juga karena pasca pilkada hingga klaster rumah tangga. Lalu bagaimana setelah libur Nataru nanti?

Sutrisno mengatakan di awal tahun nanti lonjakan kasus tergantung pada aktivitas manusia. Jika pergerakan manusia semakin hebat, maka virus dapat menyebar luas.

"Menularnya lewat manusia, ya bisa dibayangkan. Tapi kalau aktivitas manusia bisa dibatasi otomatis penularannya bisa dibatasi. Kan virus tidak bisa menular sendiri kan menular karena manusia," jelasnya.

Karena ketidakpatuhan masyarakat akan protokol kesehatan, imbasnya pada perawatan di RS. Di mana RS kembali penuh sampai pasien tidak mendapatkan kamar untuk isolasi.

"RS penuh, IGD kayak pasar, yang meninggal banyak, yang sakit banyak, yang mau dapat rujukan nggak dapet Tinggal tunggu waktu semua orang terkena," ujarnya.

Oleh karena itu, Sutrisno berpesan kepada masyarakat untuk tidak banyak aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa keluar, kunci utama dalam protokol kesehatan adalah penggunaan masker dengan baik dan benar.

"Tinggal di rumah, aktivitas di rumah, batasi hubungan langsung dengan manusia, kalau terpaksa keluar gunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak. Itu saja simpel, kalau patuh menggunakan masker itu aman. Masker paling penting nomor satu," pungkas Sutrisno.

(iwd/iwd)