Sebelum Meninggal, Kiai di Sampang yang Jenazahnya Utuh Sempat Berpesan ke Anaknya

Hilda Meilisa - detikNews
Sabtu, 28 Nov 2020 11:31 WIB
Jasad kiai di Sampang diketahui masih utuh saat makamnya diperbaiki. Padahal, kiai tersebut sudah dikebumikan sejak 3 tahun lalu.
Kiai Baidowi jasadnya utuh (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Jasad KH. Ahmad Baidowi di Sampang diketahui masih utuh meski sudah 3 tahun dikebumikan. Sebelum meninggal, Kiai Baidowi sempat memberi pesan khusus keluarganya.

Putra Kiai Baidowi, KH Sufyan Ahmad menceritakan jika orang tuanya tidak memiliki riwayat penyakit yang parah. Sesaat sebelum meninggal, Kiai Baidowi berpesan agar para keluarga tidak menangisi kematiannya.

"Sebenarnya berpesan jika mau mati nanti, karena orang tua itu sakitnya ndak parah, biasa-biasa saja. Jam 12 siang masih biasa, sorenya sebelum meninggal dia berpesan 'saya mau mati nanti, jangan menangis ya, jangan nangis semua'," kata Kiai Sufyan kepada detikcom, Sabtu (28/11/2020).

Bahkan, Kiai Baidowi meninggal usai mengucapkan kalimat tauhid sebanyak tujuh kali dan ditutup dengan senyum di bibirnya. Selain itu, kedua tangan Kiai Baidowi juga terlihat bersendekap sendiri.

"Waktu meninggalnya hari Senin jam 6 sore, itu abah saya meninggal dengan mengucapkan allahu akbar, dengan bibir tersenyum, mengucapkan Allahu Akbar sendiri langsung meninggal," tambah Kiai Sufyan.

Kiai Baidowi memang bukan ulama besar. Kiai Sufyan menyebut abahnya merupakan kiai kampung yang kesehariannya dibuat mengabdi dan mengajarkan ilmu agama ke masyarakat di Kampung Langpanggang, Dusun Banbalang, Desa Batoporo Barat, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura.

"Orang tua saya biasa-biasa saja. Cuma dalam kesehariannya bergaul dengan masyarakat. Biasanya orang tua saya setiap hari dan malam bermasyarakat mengajari orang mengaji, ngajar agama dan apa yang dibutuhkan masyarakat," kata Kiai Sufyan.

Namun, Kiai Sufyan menyebut jika orang tuanya merupakan sosok yang senantiasa ikhlas dan jujur dalam memberi ajaran Islam pada masyarakat. Abahnya juga tidak pernah pamrih dalam berjuang menegakkan agama.

"Kalau Kiai kampung yang jelas bermasyarakat, perjuangannya tidak pernah pamrih, baik itu perjuangan di masyarakat tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Beliau ikhlas sampai para kiai-kiai NU dan ormas lain mengirim pesan ke saya mendoakan semoga perjuangan beliau yang jujur, ikhlas dan tanpa pamrih semoga diterima Allah," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2