Patirtan Kuno Era Kerajaan Kediri dan Majapahit Ditemukan di Gunung Klotok

Andhika Dwi Saputra - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 20:45 WIB
patirtan kuno
Patirtan kuno yang ditemukan di kaki Gunung Klotok (Foto: Andhika Dwi Saputra)
Kediri -

Sebuah bangunan menyerupai patirtan (pemandian) kuno ditemukan di kaki Gunung Klotok, Kota Kediri. Temuan ini diperkirakan memiliki korelasi secara religi dengan temuan tiga candi sebelumnya yang berada di atas Bukit Badung.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur hari ini melakukan ekskavasi terhadap temuan bangunan patirtan kuno di lereng Gunung Klotok, Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri.

Ekskavasi ini merupakan program lanjutan dari zonasi yang dilakukan BPCB pada tahun 2017 silam yang difasilitasi Pemerintah Kota Kediri.

"Ekskavasi ini diawali kegiatan kita waktu melakukan zonasi pada 2017, kita melakukan survei permukaan pada beberapa titik yang diindikasi cagar budaya. Saat itu kita menemukan disini ada sumber air dan batu kuno yang dimanfaatkan warga sebagai plengsengan irigasi. Saat itu kita mulai melihat beberapa susunan yang terlihat sedikit pada permukaan tanah," ujar Arkeolog BPCB Jawa Timur Nugroho Harjo Lukito, Rabu (25/11/2020).

Di hari kedua ekskavasi ini, BPCB berupaya menampakkan bagian depan bangunan. Selanjutnya, dalam dua pekan ke depan BPCB berencana akan membuka secara keseluruhan bangunan yang tertutup tanah dan irigasi warga di sisi utara.

Saat ini, Nugroho belum bisa memastikan era temuan ini. Namun secara umum, ini masih relatif sama dengan temuan tiga candi sebelumnya yang berada di atas Bukit Badung, yakni era Kerajaan Kediri yang terus dimanfaatkan hingga era Majapahit dengan korelasi secara religi.

"Pada masa kerajaan itu, ada konsep mengkultuskan gunung. Bahwa gunung itu sebuah tempat dimana nenek moyang dianggap bersemayam di sana. Oleh karena itu dianggap suci dan mereka menempatkan bangunan-bangunan suci dalam rangka pemujaan roh leluhur atau dewa-dewa yang diyakini mereka. Dan ini korelasi dengan Candi Klotok 1, 2, dan 3 yang kita temukan sebelumnya dari sisi religi, artinya ini merupakan persiapan atau mensucikan diri sebelum menuju puncak," imbuh Nugroho.

Terkait kelanjutan dan pemanfaatan kawasan ini, Pemkot Kediri masih akan menunggu rekomendasi Tim BPCB setelah ekskavasi rampung dilakukan. Apakah akan dimanfaatkan sebagai wisata religi atau wisata berkonsep alam dengan menitik beratkan pada kesehjateraan masyarakat sekitar.

"Saat ini kita memfasilitasi untuk nantinya kita tetap akan tunggu rekomendasi dari tim, yang jelas Pemerintah Kota Kediri telah melakukan koordinasi terus menerus dengan sejuah pihak mengenai hal ini, BPCB, dan Perhutani," kata Kepala Disbudparpora Kota Kediri Nur Muhyar.

Sementara itu, selama proses ekskavasi 14 hari ke depan, BPCB berharap ada temuan data artefak berupa gerabah, keramik, atau arca untuk mempermudah identifikasi.

(iwd/iwd)