Komplotan Curanmor, Penadah, hingga Pemalsu Dokumen Kendaraan Dibekuk

Hilda Meilisa - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 20:35 WIB
curanmor
Polisi menunjukkan barang bukti kasus pemalsuan dokumen (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya -

Polisi mengamankan komplotan curanmor, penadah hingga, pemalsu dokumen kendaraan. Ada tiga tersangka yang bersekongkol dan kerap beraksi di wilayah Jawa Timur.

"Saat ini dari Ditreskimum Polda Jawa Timur berulang kali melakukan pengungkapan, pada saat ini terkait adanya dasar tiga laporan polisi," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko saat rilis di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat (4/9/2020).

Truno menambahkan ketiga tersangka ini yakni Shafa Kurnia Haris (37), warga Rembang, Pasuruan. Shafa merupakan pelaku pencurian dengan pemberatan.

Tersangka kedua adalah Yono, warga Purwodadi, Pasuruan. Yono merupakan pelamu pemalsuan surat hingga penadah motor. Sedangkan tersangka ketiga yakni Chotib, warga Rembang, Pasuruan. Khotib juga merupakan pelaku pencurian dengan pemberatan.

"Tersangka pertama, tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan atau curat, kemudian juga adanya tindak pidana pemalsuan surat dan persekongkolan jahat. Kemudian, ada tindak pidana pencurian dengan pemberatan juga penadahan," ungkap Truno.

Tak hanya itu, Truno menyebut ketiganya memiliki peran yang berbeda. Namun, yang membedakan komplotan ini, yakni adanya pelaku pemalsuan dokumen kendaraan.

"Ketiga tersangka ini memiliki peran masing masing yang berbeda. Yaitu, Joki pembawa kendaraan pada saat melakukan curanmor, dan satu lagi melakukan eksekusi atau melakukan tindakan pengerusakan kemudian membawa kendaraan. Kemudian ada bagian penerima atau penadah. Komplotan ini yang paling unik untuk saat ini adalah, para pelaku menerima order jenis kendaraan roda dua," papar Truno.

"Karena yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk melakukan kamuflase atau perubahan, yaitu terkait dengan nomor rangka dan nomor mesin kendaraan yang berhasil dicuri, diubah dengan sesuai surat yang dimiliki oleh penadah," ungkapnya.

Truno menyebut pelaku telah memiliki STNK dan BPKB asli. Lalu, pelaku mencuri kendaraan yang jenisnya sesuai dengan tersebut dan mengubah nomor rangka dan nomor mesin.

"Dari kemampuan ini, penadah menjadi seolah-olah kendaraan hasil curian itu sah sebagaimana yang teregistrasi di kepolisian. Berdasarkan hasil pengungkapan ini, pengungkapan untuk melakukan perubahan nomor rangka maupun nomor mesin sesuai dengan jenis yang diorder oleh penadah, kemudian disamakan dengan STNK dan BPKB yang dimiliki, mendasari pembelian dari hasil kendaraan kecelakaan lalu lintas," jelas Truno.

Kendaraan yang sudah sesuai dan seolah-olah memiliki surat-surat asli akhirnya dijual oleh pelaku dengan harga normal.

"Kemudian dijual oleh tersangka. Harganya menjadi harga normal, ada keuntungan dalam hal ini. Membeli surat kendaraan asli dan membeli kendaraan hasil pencurian, kemudian mmengubah nomor kendaraan dan mendapat keuntungan dari hasil tersebut," tambah Truno.

Untuk itu, polisi menyarankan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam membeli kendaraan bermotor. Pastikan jika kendaraan tersebut memiliki surat-surat hingga nomor mesin dan nomor kendaraan yang asli.

"Untuk nomor rangka dan mesin adalah kewenangan dari peraturan undang-undang yang berlaku yaitu dari kepolisian RI dalam hal ini adalah fungsi kepolisian lalu lintas. Maka, bagi para pembeli kendaraan bermotor khususnya dalam posisi kendaraan bekas mengecek, karena registrasinya akan dilakukan identifikasi nomer nanti akan digesek," pesan Truno.

Dalam penangkapan ini, polisi mengamankan sejumlah kendaraan roda dua yang dicuri oleh pelaku, STNK dan BPKB asli, handphone hingga kunci yang digunakan pelaku mencongkel kendaraan sebelum dibawa kabur.

Ketiga pelaku ini ditetapkan dengan pasal yang berbeda, tersangka pertama dan ketiga terkena pasal 363 KUHP terkait pencurian dengan pemberatan, sementara tersangka kedua terancam pasal 263 KUHP jo 266 KUHP jo 480 KUHP tentang pemalsuan surat dan penadahan.

(hil/iwd)