Bagaimana Virus Survive hingga Bisa Bermutasi?

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 23:14 WIB
Anggota Tim Riset Covid-19 Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih
Peneliti dan Pakar Biomolekular Universitas Airlangga (Unair) Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih/Foto: Esti Widiyana
Surabaya -

Pandemi COVID-19 belum juga usai. Malah baru-baru ini ditemukan mutasi Corona Surabaya tipe Q677H.

Bagaimana virus tersebut dapat bermutasi? Peneliti dan Pakar Biomolekular Universitas Airlangga (Unair) Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan, virus itu akan survive. Karena virus tidak bisa hidup sendiri di luar sel inang.

Virus itu tidak memiliki perangkat seperti perangkatnya manusia yang lengkap. Seperti mempunyai DNA, kromosom, bisa transisi RNA, memiliki sistem kompartemen yang sangat teratur sampai menjadi protein. Semua sudah ada organ selnya, punya fungsi masing-masing protein tersebut yang diterjemahkan dari DNA sebagai materi genetik.

"Virus itu tidak punya seperti manusia, hewan, tumbuhan bahkan bakteri punya perangkat untuk melakukan kegiatan bioseintesis proteinnya sendiri. Dia bisa hidup bereplikasi sendiri bakteri, fungi. Artinya, bakteri atau fungi bisa hidup sendiri tanpa inang, tidak seperti virus yang tidak bisa hidup tanpa inang," kata Nyoman saat dihubungi detikcom, Senin (31/8/2020).

Nyoman menjelaskan, virus tidak memiliki kemampuan untuk mereplikasi atau memperbanyak proses metabolisme di dalam dirinya sendiri. Sehingga virus harus masuk ke sel inang untuk bisa hidup.

"Kalau virus itu di luar sel inang, dia menyimpan materi genetik tapi dia nggak bisa ngapa-ngapain. Jadi kadang orang bilang dia benda mati kalau di luar, makanya disemprot disinfektan dan sebagainya," jelasnya.

Tetapi, lanjut Nyoman, begitu virus masuk ke sel inang maka akan mendapat perangkat dari sel inang untuk berkembang biak. Hal itulah yang menjadi berbahaya jika virus masuk ke dalam tubuh manusia.

"Apa lagi hewan bisa ke manusia, artinya sudah mengalami perubahan untuk bisa menyesuaikan dengan host yang lain yaitu manusia. Sehingga masyarakat tetap perlu waspada karena virus itu tidak terlihat oleh kita secara kasat mata, tapi dampaknya akan terlihat ketika kita terasa demam dan sebagainya itu gejalanya infeksi," paparnya.

Agar virus terlebih COVID-19 tak masuk ke tubuh dan berkembang biak, Nyoman meminta masyarakat untuk patuh protokol kesehatan. Hal itu harus dilakukan secara disiplin selama belum ada obat maupun vaksin yang masih pada tahap percobaan.

"Jadi selama belum ada obat dan vaksin, maka semua masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan dengan baik dan sangat disiplin. Jaga kebersihan, kesehatan, pakai masker, face shield, selalu cuci tangan. Jika mau memegang wajah cuci tangan dulu, pakai hand sanitizer," pungkasnya.

(sun/bdh)