Dari Mana Mutasi Corona Surabaya yang Ditemukan Peneliti Unair?

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 19:51 WIB
Anggota Tim Riset Covid-19 Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih
Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Foto file: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Peneliti dan Pakar Biomolekular Universitas Airlangga (Unair) Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengklaim ada mutasi baru virus COVID-19 di Surabaya. Virus Corona ini juga bermutasi menjadi Corona lain yang sangat jarang ditemui, yakni tipe Q677H. Lantas, dari mana asal mutasi Corona Surabaya itu?

"Kalau melihat filogenetik (Pohon kekerabatan), jadi kedekatan virus strain Cina atau Eropa, kalau 677 dekat dengan strain Eropa. Filogenetiknya lebih ke Eropa dari pada China. Dan baru terdeteksi di tingkat global, baru ada di 13 negara termasuk Indonesia (Surabaya)," kata Prof Ni Nyoman saat dihubungi detikcom, Senin (31/8/2020).

Dia menjelaskan, untuk genomenya COVID-19 jika di data internasional petanya untuk Indonesia, baru sampel Surabaya yang disubmit oleh Unair. Belum ada sample Indonesia di kota lain untuk virus Q677H.

"Makanya kami waktu mendapatkan siquence dari genome virus itu dikoleksi bulan April dan kita submit di giset bulan Mei itu sudah muncul dua titik mutasi, yaitu 614 dan 677. Sehingga kami sejak awal sudah tertarik mempelajari lebih lanjut," ujarnya.

Namun, lanjut Ni Nyoman, sumbangan terhadap jumlah pasien yang terkonfirmasi dengan mutasi virus Q677H masih kecil. Yakni 0,12% dibandingkan poin mutasi yang ada di D614G, sekarang sudah 77,5%. Baru muncul mutan Q677H di data giset bulan Maret di tingkat internasional, tapi D614G ditemukan sejak bulan Januari. Artinya ada selisih tiga sampai empat bulan baru muncul mutan virus Q677H.

Saat tim peneliti Unair ada 6 whole genome siquence yang sumbangkan ke data base global. Dari 6 itu 2 di antaranya mempunyai mutan pada bulan Mei dan satunya menyusul pada bulan Juni.