Ini Pengaruh Mutasi Corona Surabaya yang Ditemukan Peneliti Unair

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 21:28 WIB
Anggota Tim Riset Covid-19 Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih
Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Foto file: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Peneliti dan Pakar Biomolekular Universitas Airlangga (Unair) Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengklaim ada mutasi baru virus COVID-19. Mutasi Corona Surabaya tipe Q677H ini sangat jarang ditemui.

Mutasi Corona Surabaya ini lebih dekat dengan strain Eropa dari pada China. Dan baru terdeteksi di tingkat global yang baru ada di 13 negara, termasuk Indonesia.

Mutasi virus Corona Q677H ini sedang dipelajari pengaruh lain, selain tingkat penyebaran. Sebab, tipe Q677H masih 0,12% di data internasional giset yang terkonfirmasi 12 negara dari jumlah 99 virus atau pasien baru ditemukan di informasi data base pada Maret atau April.

Salah satu yang menyumbang data mutan di Indonesia di giset, masih Surabaya. Belum ditemukan di kota lain. Namun, tipe virus Q677H ini sudah ada di negara lain khususnya Eropa, AS, Australia, India, termasuk pula Timur Tengah. Tetapi pada peta, tidak sebanyak D614G.

"Kami sekarang masih mempelajari interaksi protein ke protein. Kami tidak meneliti sampai tingkat kematian karena meneliti di situ harus tracing terhadap kondisi pasien. Kami kerja sama dengan RS, litbangkes untuk mendapatkan sample lebih banyak untuk mengetahui apakah juga menyebar di daerah lain di Indonesia," kata Nyoman saat dihubungi detikcom, Senin (31/8/2020).

"Apakah (Virus ini) menyebabkan kematian? Karena datanya masih sedikit. Q677H saja baru 1, sedangkan D614G baru 12 data yang ada di giset Indonesia. Data ini masih sangat sedikit untuk mengatakan ini menyebabkan tingkat kematian, itu belum ada bukti signifikan, masih bervariasi," jelasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2