Ini Pengaruh Mutasi Corona Surabaya yang Ditemukan Peneliti Unair

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 21:28 WIB
Anggota Tim Riset Covid-19 Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih
Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Foto file: Esti Widiyana/detikcom)

Menurutnya, pengaruh pada meningkatnya angka kematian atau tidak, itu perlu penelitian dan data yang lebih akurat. Meski mendapat data dan kondisi pasien tersebut, namun hal itu bukan wewenang peneliti untuk menyampaikan bahwa virus itu berbahaya.

"Karena kami hanya punya satu data (Pasien). Dan itu betul-betul data yang belum bisa disebut berbahaya dan menyebabkan kematian. Kami juga sedang mempelajari pengaruh pada protein virus. Bisa jadi ini hanya pengaruh sama D614G tingkat penyebarannya cepat tapi belum kepada kematian. Secara internasional juga belum," paparnya.

Pihaknya berharap virus itu cepat termutasi, sekaligus cepat hilang. Dengan termutasi, ada dua kemungkinan, virus semakin kuat atau lemah.

"Lama-lama kemampuannya menurun untuk menginfeksi. Sisi klinik riwayat, tracing pasien, sembuh, perlu data banyak, nggak bisa data satu pasien saja. Sehingga kami bisa pelajari molekulnya. Namun bukan mempelajari riwayat pasien, karena hal itu bukan wewenang kami, itu wewenang dokter," jelasnya.

Sementara pengaruh virus Corona D614G pada tingkat kematian juga belum ada data maupun laporan. Baik jurnal internasional maupun informasi yang mengatakan mutasi ini menyababkan peningkatan angka kematian. Yang jelas diketahui adalah meningkatkan infektivitasnya.

Artinya, meningkatnya penyebaran yang lebih luas tapi tidak menyebabkan kematian, masih belum terbukti. Sebab, kasus Corona ringan-ringan juga mempunyai mutan tersebut.

"Memang penyebaran menjadi cepat, karena ada mutasi meningkatkan daya infektivitasnya. Tapi tidak menyebabkan kematian. Imunitas juga belum ada penelitian ke sana, demikian yang dilaporkan sampai Agustus 2020," pungkasnya.


(fat/fat)