17 SMP di Surabaya Sudah Simulasi Sekolah Tatap Muka, 3 Tak Penuhi Kriteria

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 18:47 WIB
Kepala Bidang Guru dan Bidang Pendidikan Dispendik Surabaya Mamik Suparmi
Kepala Bidang Guru dan Bidang Pendidikan Dispendik Surabaya Mamik Suparmi (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

21 SMP negeri maupun swasta dari lima wilayah di Surabaya ditargetkan melakukan simulasi sekolah tatap muka sejak Senin (3/8). Target awal akan selesai semua selama empat hari. Namun selama empat hari itu, baru 17 SMP yang melakukan sekolah tatap muka.

Kepala Bidang Guru dan Bidang Pendidikan Dispendik Surabaya Mamik Suparmi mengatakan sebenarnya hari ini Jumat (7/8/2020) simulasi sudah tuntas. Namun hal itu tertunda karena terbentur jadwal rapid test untuk para guru.

"Hari ini mestinya tuntas tapi karena hari pertama itu ada kres dengan jadwal rapid, sehingga sekolah jadwal pertama mundur. Mestinya hari ini terakhir tapi mundur jadi Senin depan 4 sekolah yang seharusnya hari pertama," kata Mamik di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2020).

Mamik mengatakan hari ini tidak ada jadwal simulasi. Simulasi terakhir akan dilakukan pekan depan, tepatnya pada Senin (10/8).

Dari 17 SMP yang sudah dilakukan simulasi, tiga di antaranya belum memenuhi kriteria. Seperti sarana hingga luas sekolah.

"Kalau nggak salah sarananya, tempatnya terlalu kecil. Kita mulai sekolah kecil, menengah atas. Tapi untuk protokol kesehatan guru-guru sudah menerapkan, dari satgas COVID kota kan membentuk untuk bidang pendidikan," jelasnya.

Dari tiga SMP yang belum memenuhi kriteria sekolah tatap muka, bukan berarti tidak bisa melaksanakan. Namun harus meningkatkan dan memenuhi standar yang ditetapkan Dispendik Surabaya.

"Mereka masih berbenah terus. Karena segalanya harus benar-benar dipersiapkan. Agar benar-benar siap," ujarnya.

Sementara itu, Dispendik Surabaya juga masih memetakan para siswa dan keluarga. Mereka dimintai data riwayat kesehatan. Jika memiliki komorbid, maka tidak bisa melakukan sekolah tatap muka.

"Dari riwayat kesehatannya, keluarga dari siswa juga kami cek riwayat kesehatannya. Yang punya komorbid nggak bisa sekolah tatap muka, seperti asma, diabetes nggak bisa karena rawan," pungkasnya.

(iwd/iwd)