Gugus Tugas Sebut Angka Kematian COVID-19 di Jatim Mirip Flu Spanyol

Faiq Azmi - detikNews
Kamis, 16 Jul 2020 22:11 WIB
Kepala Gugus Pusat Percepatan Penanganan COVID-19 Pusat Doni Monardo
Kepala Gugus Pusat Percepatan Penanganan COVID-19 Pusat Doni Monardo (Foto: Faiq Azmi)
Surabaya -

Kasus positif COVID-19 di Jawa Timur masih tertinggi secara nasional yakni berjumlah 17.574 kasus. Untuk angka kematian, Jatim juga tertinggi dengan 1.301 angka kematian.

Kepala Gugus Pusat Percepatan Penanganan COVID-19 Pusat, Doni Monardo mengatakan saat Flu Spanyol 100 tahun lalu, angka kematian juga tertinggi di Jatim.

"Yang terbanyak pada waktu itu wilayah nusantara, masih berupa kerajaan dan dikuasai Belanda, tahun 1918 belum jadi republik. Paling banyak korban di Madura. 23 persen populasi warga Madura meninggal dunia. 23 persen itu bukan dari yang terpapar, tapi dari populasi," kata Doni saat Rakor bersama Gugus COVID-19 Jatim di Hotel Inna Simpang, Surabaya, Kamis (16/7/2020).

Saat itu, menurut Doni, ada 4,5 juta warga Indonesia yang meninggal akibat Flu Spanyol. Untuk kasus meninggal terbanyak ada di Jatim.

"Madura 23 persen populasi, kemudian Kediri 20 persen populasi, Surabaya 17,54 persen, Pasuruan 14,32 persen lalu Madiun 7,31. Saat itu yang wafat mencapai 4,5 juta orang," terang Doni.

Belajar dari pagebluk 100 tahun lalu, Doni menjelaskan bahwa COVID-19 belum tentu ditemukan vaksin dan obatnya. Apalagi Flu Spanyol saat itu hilang begitu saja.

"Mencermati kasus 100 tahun lalu, dan hari ini tentang COVID-19 yang kita tidak tahu apakah akan berhasil adanya vaksin dan obat. Karena Flu Spanyol setelah terjadi hingga hari ini tidak ditemukan vaksinnya, hilang begitu saja," jelasnya.

Kepala BNPB ini menyampaikan, agar masyarakat Indonesia harus siap dengan kemungkinan terburuk bahwa vaksin dan obat tidak ditemukan.

"Kita pun harus mempersiapkan diri menghadapi situasi terjelek. Saya mengingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia, agar tidak menganggap enteng COVID-19 ini," katanya.

"Tidak ada kata terlambat. Mari belajar dari masa lalu, jangan biarkan rakyat kita terpapar COVID-19. Jangan sampai warga kita sakit, baik sakit sedang hingga berat. COVID bukan rekayasa, COVID bukan konspirasi. COVID ibaratnya malaikat pencabut nyawa," pungkas Doni.

(iwd/iwd)