Awas! Enggan Pakai Masker di Kota Mojokerto Disanksi Kerja Sosial dan Denda

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 14 Jul 2020 21:31 WIB
ning ita
Wali Kota Ning Ita dan Kapolresta Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau Ning Ita bakal menerapkan sanksi tegas berupa kerja sosial atau denda bagi warganya yang tidak memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Penegakan sanksi ini juga didukung sepenuhnya oleh polisi dan TNI agar masyarakat Kota Mojokerto disiplin mematuhi protokol kesehatan.

Ning Ita mengatakan, penyebaran virus Corona di wilayahnya masih cukup mengkhawatirkan. Terlebih lagi, dari 143 pasien positif Corona per Senin (13/7), 111 tergolong tanpa gejala klinis. Pasien positif tanpa gejala tersebut mempunyai risiko tinggi menyebarkan ke orang lain.

"Kami bantu mereka agar tetap disiplin dan mematuhi protokol kesehatan dengan melakukan isolasi mandiri. Kami juga memberikan terapi probiotik sejak tiga minggu yang lalu. 1.000 botol sudah kami bagikan. Kami pengadaan lagi 6.000 botol," kata Ning Ita kepada wartawan di rumah dinasnya, Jalan Hayam Wuruk, Selasa (14/7/2020).

Selain itu, penyebaran COVID-19 di Kota Mojokerto juga dipengaruhi letak geografisnya. Kota yang dikelilingi Kabupaten Mojokerto ini masuk kawasan penyangga Surabaya. Seperti diketahui, Kota Pahlawan itu menjadi episentrum penyebaran COVID-19 di Jatim. Ning Ita menyebut, mutasi atau penyebaran virus Corona antardaerah masih tergolong tinggi.

Oleh sebab itu, saat ini Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Mojokerto fokus mengedukasi masyarakat terkait pentingnya mematuhi protokol kesehatan. Mulai dari memakai masker, menjaga jarak satu sama lain, hingga rajin mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun. Selain itu, pihaknya juga membatasi kerumunan masyarakat di area publik.

"Partisipasi masyarakat kami tingkatkan melalui kampung tangguh. Supaya mematuhi protokol kesehatan menjadi kebutuhan masyarakat, bukan keinginan gugus tugas. Saat ini kami lakukan penguatan kampung tangguh. Kampung tangguh kami lombakan untuk menstimulasi masyarakat supaya mereka merasa protokol kesehatan menjadi kebutuhan mereka," terangnya.

Untuk membuat warga Kota Mojokerto mematuhi protokol kesehatan, lanjut Ning Ita, pihaknya juga menerbitkan Perwali nomor 55 tahun 2020 tentang perubahan Perwali nomor 47 tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Kondisi Pandemi COVID-19 di Kota Mojokerto.

Perwali ini salah satunya mengatur sanksi bagi warga yang nekat tidak memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Hukuman tersebut berupa kerja sosial membersihkan fasilitas umum atau denda Rp 200.000. Menurut Ning Ita, Perwali 55 tahun 2020 pada tahap sosialisasi sampai 14 hari ke depan. Setelahnya, para pelanggar mulai ditertibkan.

"Kami upayakan masyarakat mau disiplin dengan menerapkan sanksi kerja sosial. Yaitu membersihkan fasilitas umum. Eksekutornya nanti tim gugus tugas, termasuk TNI dan Polri," tegasnya.

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Deddy Supriadi menjelaskan, Perwali nomor 55 tahun 2020 memuat upaya preventif, preemtif, promotif dan represif. Menurut dia, represif menjadi langkah terakhir untuk membuat masyarakat mematuhi protokol kesehatan.

"Karena membuat masyarakat patuh dengan protokol kesehatan, tidak mudah. Yang kami kedepankan sisi edukasinya. Kalau tidak memakai masker, sanksinya membersihkan tempat umum. Jika tidak, denda. Yang kami utamakan sanksi kerja sosial. Kami komitmen dengan Kodim 0815 Mojokerto selaku organ di dalam gugus tugas siap mengawal penerapan Perwali tersebut," tandasnya.

(iwd/iwd)