Dinkes Surabaya Selidiki Permen Beracun yang Makan Korban 15 Siswa SD

Amir Baihaqi - detikNews
Rabu, 25 Sep 2019 21:19 WIB
Kepala Dinkes Surabaya drg Febria Rachmanita (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya - 15 siswa SD Al Manar di Benowo, Surabaya mengalami keracunan masal pada Selasa (24/9) usai mengonsumsi permen. Akibatnya mereka harus mendapatkan perawatan di puskemas setempat.

Menanggapi kejadian itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya langsung merespon dengan melakukan penyelidikan. Permen tersebut saat ini tengah diperiksa di laboratorium.

"Masih kami lab-kan. Masih proses cek," kata Kepala Dinkes Surabaya drg Febria Rachmanita saat dihubungi detikcom, Rabu (25/9/2019).

Perempuan yang akrab disapa Fenny itu menuturkan para siswa yang keracunan sebelumnya mengalami rasa mual dan pusing usai mengonsumsi permen tersebut. Namun saat ini kondisi mereka sudah berangsur-angsur membaik usai mendapat rawat jalan di Puskesmas.


"Siswa mual dan pusing sudah dirawat jalan dipuskesmas Benowo dan saat ini sudah tidak ada rasa mual lagi," terang perempuan yang juga Plt Dirut RSUD Soewandhie itu.

Ditanya apa merk permen tersebut, Fenny menyebut permen itu bernama 'Permen Keras (Candy Fun)'. Pihaknya juga saat ini sedang mengecek apakah permen tersebut mengantongi izin produksi atau tidak.

"Permen Keras (Candy Fun). Izin masih dicek," tutur Fenny.

Atas kejadian itu, pihaknya mengimbau agar untuk sementara pedagang tidak menjual permen itu. Selain itu, para orang tua dan anak-anak juga diminta waspada bila membeli makanan dan minuman, terlebih jika tidak ada izin produksinya.


"Untuk sementara mengimbau penjual permen tidak boleh menjual permen tersebut dulu sampai hasil lab keluar. Dan dihimbau orang tua dan anak-anak waspada bila membeli permen, makanan dan minuman yang tidak ada izin edar," pungkas Fenny.

Sebelumnya, imbauan kepada orang tua agar tidak membeli permen beracun beredar di media sosial. Dalam pesan yang beredar, disebutkan sejumlah bocah SD di Surabaya menjadi korban keracunan setelah mengonsumsi permen tersebut.

"Bapak ibu yg punya anak kecil tolong di beritahu untuk tidak membeli permen ini karena beracun. Kurang lebih ada 18 anak dibawa ke Puskesmas Benowo dan beberapa dirujuk ke RS," tulis pesan yang beredar seperti dikutip detikcom, Rabu (25/9/2019).

Hak Jawab dan Hak Koreksi PT Petrona Inti Chemindo Selengkapnya

1. Pada hari Rabu, 25 September 2019 sampai dengan Jumat 27 September 2019, detik.com telah mengunggah berita berjudul "Viral Permen Beracun di Surabaya, 15 Siswa SD Jadi Korban".

Bahwa pemberitaan yang menyebutkan bahwa 15 Siswa SD mengalami mual dan muntah setelah mengkonsumsi permen berbentuk kipas. Pemberitaan tersebut telah tertuju pada merk permen keras (Candy Fun) berbentuk kipas milik PT Petroa Inti Chemindo sebagai Importir permen tersebut;

2. Bahwa, diunggahnya berita tersebut hanya meminta klarifikasi atau infomrasi dari pihak sekolah dan tidak mendapatkan klarifikasi atau informasi dari PT Petrona Inti Chemindo sebagai Importir, sementara data Klien kami sangat jelas ada pada kemasan tersebut, apalagi setelah dimuat informasi tersebut sangat bertolak belakang dengan kebenaran tentang produk permen keras (Candy Fun).

3. Bahwa, diketahui permen dengan merk permen keras (Candy Fun) tersebut yang telah memiliki hasil laboratorium dari Shenzen Flux Testing Technology co., LTD., Laboratory yang berasal dari China yang menyatakan bahwa hasilnya negative (-) yang memiliki arti tidak ada bahan-bahan berbahaya dari permen dengan merk permen keras (Candy Fun) tersebut, begitupun telah diuji di Badan POM Indonesia.

4. Bahwa, selanjutnya akibat dari pemberitaan tersebut permen dengan merk permen keras (Candy Fun) telah diperiksa dan disegel oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Surabaya, kemudian setelah dilakukan pemeriksaan oleh BPOM pada tanggal 22 Oktober 2019 telah dibuka segelnya, yang menyatakan bahwa permen tersebut dapat dijual dan dikonsumsi kembali oleh masyarakat;

5. Bahwa, pada tanggal 7 November 2019 kami dan pihak PT Petrona Inti Chemindo telah mendatangi SD Al-Manar dan ditemukan fakta bahwa ternyata pada dasarnya hanya 1 anak yang mengalami mual pada hari anak tersebut mengkonsumsi permen dan menurut keterangan pihak sekolah, anak tersebut hari sebelumnya kesehatannya memang kurang baik sedangkan 14 anak lainnya pada dasarnya tidak bermasalah.

6. Informasi di detik.com bahwa 15 anak langsung dibawa ke Puskesmas Benowo ternyata tidak benar karena setelah kami menemui Puskesmas Benowo didapat informasi dari dr. Edy Purnomo selaku Kepala Puskesmas Benowo bahwa yang dibawa ke Puskesmas bukan 15 anak akan tetapi hanya 4 orang anak dan anak-anak ini tidak dibawa ke Puskesmas pada hari kejadian akan tetapi baru dibawa ke Puskesmas pada keesokan harinya.

Setelah dilakukan pemeriksaan medis, menurut dr. Edy Purnomo, tidak ditemukan tanda-tanda keracunan pada ke 4 anak tersebut sehingga diperbolehkan pulang dan tidak ada perawatan lanjutan ke rumah sakit artinya tidak ada yang serius dengan kesehatan anak-anak tersebut.

7. Bahwa, dari fakta hukum di atas, terbukti pemberitaan yang diunggah oleh pihak detik.com mengandung berita yang tidak benar karena permen tersebut tidak mengandung bahan-bahan berbahaya seperti yang ditulis dalam pemberitaan tersebut juga belum terbukti bahwa permen ini yang menyebabkan 15 siswa mengalami mual dan pusing.

8. Bahwa akibat pemberitaan yang massif yang telah tersebar dan diakses oleh publik secara meluas akhirnya telah terbentuk opini publik terkait nama baik PT Petrona Inti Chemindo, sehingga mengakibatkan kerugian penjualan permen dengan merk permen keras (Candy Fun).

(iwd/iwd)