Cara Petani Magetan Rayakan HUT RI, Konvoi di Sawah dengan Traktor

Cara Petani Magetan Rayakan HUT RI, Konvoi di Sawah dengan Traktor

Sugeng Harianto - detikNews
Minggu, 18 Agu 2019 18:25 WIB
Traktor peserta karnaval (Foto: Sugeng Harianto)
Traktor peserta karnaval (Foto: Sugeng Harianto)
Magetan - Peringatan HUT RI di Desa Banjarpanjang, Kecamatan Ngariboyo, Magetan dilakukan dengan menggelar konvoi. Pesertanya adalah traktor dan huler (penggiling padi keliling).

Karnaval ini sekaligus merupakan bentuk protes para petani yang meski sudah merdeka namun belum merdeka. Karnaval ini digelar di sepanjang jalan sawah yang kering kerontang.

"Karena belum ada pengairan, maka dari itu saat ini kita pakai kendaraan supaya tahun yang akan datang mendapat pengairan baik irigasi maupun saluran pompa dalam," ucap Kepala Desa Banjarpanjang Sarbini saat sambutan pemberangkatan karnaval, Minggu (18/8/2019).

Ada 20 traktor, 10 Huler serta kendaraan bak terbuka berjajar mengelilingi perkampungan dan persawahan sepanjang sekitar delapan kilometer. Salah satu rombongan pertama truk yang membawa pengeras suara menyerukan tema bahwa petani di Desa Banjarpanjang belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan.


"Mulai jaman londo (penjajahan Belanda) sampai bupatinya Suprawoto, petani di desa Banjarpanjang belum beruntung (belum merasakan kemerdekaan). Seandainya kalau ada sumur P2T, petani di Banjarpanjang akan makmur," ucap peserta konvoi baris paling depan.

Tak kalah aksi, petani wanita yang mengenakan baju dan kebaya, naik traktor yang dihias menyerupai gubuk sawah. Sambil melewati jalan para wanita berteriak kata kemerdekaan.

"Merdeka, merdeka, merdeka," teriak para petani wanita secara bersahutan menggema di persawahan kaki gunung Bancak, yang merupakan anak dari gunung Lawu.

Sementara itu, salah satu koordinator acara karnaval petani, Dimyati Dahlan, mengatakan bahwa para petani menilai bahwa arti kemerdekaan adalah berduka. Petani beralasan karena sering mengalami gagal panen seiring belum adanya saluran irigasi.

"Merdeka ini bagi warga Desa Banjarpanjang kususnya Dukuh Pulutan ini adalah berduka, yang mana mereka ini gagal panen karena tidak ada pengairan. Di sini hanya sawah tadah hujan saja," ungkap Dimyati.

Momen HUT ke-74 RI ini, kata Dimyati, sangat tepat untuk mengutarakan aspirasi agar didengar oleh Pemkab Magetan dan pemerintah pusat. Diharapkan tahun-tahun ke depan persawahan warga yang hanya tadah hujan bisa mendapat bantuan pengairan.


"Para petani hanya menikmati hasil panen saat musik penghujan saja. Saat kemarau begini tidak mendapatkan hasil," tandasnya.

Pantauan detikcom, puluhan traktor dan huler yang berkeliling memasang spanduk bertuliskan tentang petani yang belum menikmati kemerdekaan. Sebagian petani tampak membawa hasil perkebunan seperti pisang dan ketela.

Salah satu spanduk bertuliskan 'Lomba makan krupuk, kerupuknya gak ada rasa, cintaku tak akan lapuk buat negeri tercinta'

Ada pula tulisan berbunyi 'Perjuangan kita belum berakhir, kemiskinan dan ketertinggalan harus kita lawan dengan kerukunun dan kebersamaan menuju pertanian modern'

Tampak pula spanduk bertuliskan kalimat 'Tidak usah ajak kami mengelola lahan berkedok tanam, yang kami butuhkan kepastian harga pupuk dan air tercukupi'. (iwd/iwd)