detikNews
Jumat 02 Agustus 2019, 12:00 WIB

Harga Cabai Meroket, KPPU Surabaya Awasi Pihak yang Curang

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Harga Cabai Meroket, KPPU Surabaya Awasi Pihak yang Curang Kepala KPPU Surabaya Dendy R Sutrisno (kiri)/Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Harga cabai di pasaran meroket hingga angka Rp 80 ribu/kg. Kendati naiknya harga disebut karena faktor alam, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Surabaya tetap melakukan pengawasan apakah ada pihak-pihak yang melakukan kecurangan.

Kepala KPPU Surabaya Dendy R Sutrisno mengatakan, ada beberapa problem dari permasalahan naiknya harga cabai. Misalnya saja mata rantai distribusi cabai yang terlalu panjang.

"Kita begini, jadi ini harus terus diawasi kemungkinan seperti itu (kecurangan) terus terbuka. Apalagi mulai hari ini kita punya dua atau tiga problem. Pertama panjangnya mata rantai distribusi, kedua tergantungnya kita pada bursa tertentu yang sangat tinggi. Ketiga lemahnya pada manajemen pasca panen," papar Dendy saat Operasi Pasar Cabai di Pasar Tambakrejo Surabaya, Jumat (2/8/2019).


Dendy mengapresiasi Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) milik Pemprov Jatim. Namun menurutnya, ada yang perlu disempurnakan.

Selain menampilkan harga, Dendy menyebut pentingnya disertakan volume atau jumlah barang tersebut di pasaran. Dendy mengambil contoh, jika naiknya harga cabai ini karena stok yang menipis, tentu akan bisa diantisipasi jauh hari seandainya stok barangnya terdata di Siskaperbapo.

"Sebenarnya Jatim sudah punya landasan yang tinggi dengan adanya Siskaperbapo, kita dorong tentu dukungan Ibu Gubernur ada peningkatan dari sebelumnya hanya harga yang dikumpulkan menjadi volume. Jadi kita punya data real, di samping pergerakan harga, juga pergerakan volume," imbuhnya.


Sedangkan terkait stok cabai yang menipis karena belum panen, Dendy menyarankan Pemprov menyediakan cold storage atau penyimpanan. Jadi, jika seandainya stok melimpah, bisa disimpan dahulu agar saat stok menipis, barang tersebut tak menjadi mahal.

"Mau tidak mau, Jatim butuh cold storage untuk bisa menyimpan atau bisa melakukan manajemen pascapanen lebih baik. Kita butuh tempat penyimpanan ketika diperlukan hal seperti ini tidak membeli pada harga cukup tinggi," papar Dendy.

Selain itu, Dendy menyebut pemerintah harus melakukan evaluasi, jika stok mulai habis di bulan Mei hingga Juli. Seharusnya ada persiapan di tahun depan saat hendak menghadapi bulan-bulan kehabisan stok cabai.

"Artinya pembelajaran tahun depan sudah harus diprogress, tiga bulan sebelumnya harus mulai langkah-langkah persiapan. Jadi kalau kita tahu Mei naik, maka bulan sebelumnya sudah dilakukan persiapan. Lah info ini sebaiknya juga diketahui petani. Kemudian konsumen sehingga tidak terjadi panic buying," pungkasnya.


Harga Melambung, Konsumen Pilih Beli Cabai Tanpa Biji:

[Gambas:Video 20detik]




(sun/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com