detikNews
Kamis 11 Juli 2019, 13:43 WIB

Situs Patakan Disebut Perlu Diekskavasi Total, Biayanya Hingga Rp 500 Juta

Eko Sudjarwo - detikNews
Situs Patakan Disebut Perlu Diekskavasi Total, Biayanya Hingga Rp 500 Juta Bangunan baru yang ditemukan di dekat Situs Candi Patakan (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Situs Candi Patakan adalah peninggalan dari masa muda Airlangga pada abad 10. Itulah hasil kesimpulan sementara tim arkeologi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jatim yang hingga hari masih melakukan ekskavasi tahap ketiga di Candi Patakan yang berlokasi di Dusun Montor, Desa Patakan, Kecamatan Sambeng ini.

Kepala BPCB Trowulan Jatim Andi Muhammad Said menuturkan dari temuan sementara yang ada di lokasi ekskavasi soket kalau bangunan ini menunjukkan ciri bangunan agama Buddha yang ada jauh sebelum masa Majapahit. Dari ekskavasi yang berlangsung saat ini, kata Said, ada temuan berupa pemukiman dan dimungkinkan adalah sebuah kompleks peribadatan dengan adanya temuan pecahan keramik dan lainnya.

"Dari temuan sementara, ada pintu gerbang, ada stupa dan juga ada bangunan Wihara, ini menunjukkan kalau bangunan situs ini adalah ciri bangunan Buddha pada masa muda Airlangga pada abad 10 sebelum masa Majapahit," ungkap Andi, Kamis (11/9/2019).

Ekskavasi tahap ketiga, lanjut Said, hingga kini baru bisa membuka sekitar 30 persen dari keseluruhan situs Patakan. Untuk mengetahui secara utuh, kata Said, dibutuhkan ekskavasi secara total agar bisa membuka semuanya. Situs Candi Patakan, kata Said, adalah satu-satunya peninggalan masa Airlangga yang terhitung lengkap jika dibandingkan dengan yang lainnya.


"Dibutuhkan ekskavasi total dengan membuka semuanya sehingga bisa kelihatan bentuk aslinya seperti apa. Karena selama ini baru dugaan saja," terangnya.

Ekskavasi total, menurut Said, tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama dan diperkirakan selama 3 bulan proses ekskavasi total akan bisa selesai. Waktu 3 bulan itu, aku Said, dengan syarat semuanya dilakukan secara bersama-sama antara instansi yang terlibat dan ketersediaan anggaran.

"Untuk ekskavasi secara total, anggaran yang dibutuhkan tidak banyak, antara Rp 300 hingga Rp 500 juta saja," lanjutnya.

Ekskavasi total, tandas Said, perlu dilakukan sehingga bisa dibuat zonasi atau denah wilayah sehingga diketahui betul ruang yang dibutuhkan untuk situs ini. Setelah proses ekskavasi total selesai, kata Said, diperlukan alat yang bisa menaungi sehingga terlindung dan lebih aman.

"Luasan lahan saat ini adalah 72x71 meter yang pas dengan bangunannya, seharusnya tidak segitu karena untuk melindungi bangunan situs cagar budaya jangan di pas dengan bangunan," kata Said sembari meminta Pemkab Lamongan untuk segera mendaftarkan Situs Patakan sebagai benda atau wilayah cagar budaya ke BPCB Trowulan Jatim.

Sementara, Kepala Disparbud Pemkab Lamongan Ismunawan memastikan komitmen Pemkab Lamongan untuk menuntaskan proses ekskavasi situs candi Patakan. Pemkab Lamongan, tandas Ismunawan, juga akan menyiapkan anggaran yang lebih besar lagi untuk proses ekskavasi.


"Akan dianggarkan lebih besar lagi, minimal tahun 2020 dan dilakukan pengembangan lebih jauh lagi," ungkap Ismunawan seraya menyebut kalau proses penetapan sebagai lokasi cagar budaya sudah akan dilakukan.

Komitmen yang sama juga ditunjukkan oleh anggota Komisi D DPRD Lamongan, Ali Mahfud. Ali Mahfud mengaku, melihat potensi yang ada di Situs Patakan ini pihaknya akan bekerjasama dengan Pemkab Lamongan untuk menuntaskan ekskavasi.

"Kami bersama eksekutif berkomitmen untuk menuntaskan situs Patakan ini," pungkasnya.

Simak Video "Ekskavasi Total Situs Patakan Butuh Biaya Hingga Rp 500 Juta"
[Gambas:Video 20detik]

(fat/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com