Krisis Air Landa 3 Desa di Lereng Penanggungan, 171 Tangki Air Disalurkan

Krisis Air Landa 3 Desa di Lereng Penanggungan, 171 Tangki Air Disalurkan

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 05 Jul 2019 15:28 WIB
BPBD Kabupaten Mojokerto distribusikan air bersih/Foto: Istimewa
BPBD Kabupaten Mojokerto distribusikan air bersih/Foto: Istimewa
Mojokerto - Musim kemarau mengakibatkan ribuan penduduk 3 desa di Kecamatan Ngoro, Mojokerto kesulitan air bersih. Pemerintah menyiapkan 171 tangki air bersih yang disalurkan secara bertahap ke tiga desa tersebut.

Krisis air bersih melanda Desa Kunjorowesi, Kutogirang dan Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro. Ketiga desa ini terletak di lereng Gunung Penanggungan.

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto Muhammad Zaini mengatakan, kesulitan air bersih saat ini dialami 1.045 jiwa yang tinggal di lereng Gunung Penanggungan. Dengan rincian 520 jiwa di Desa Kunjorowesi, 250 jiwa di Dusun Buluresik, Desa Manduro Manggung Gajah, serta 275 jiwa di Desa Kutogirang.

"Mulai kemarin (4/7) sudah ada permintaan air bersih dari Kepala Desa masing-masing. Oleh sebab itu mulai kami lakukan penyaluran air bersih," kata Zaini saat dihubungi detikcom, Jumat (5/7/2019).


Krisis air bersih yang terjadi di ketiga desa tersebut membuat BPBD Kabupaten Mojokerto meningkatkan status dari siaga ke tanggap darurat kekeringan. Sebagai tahap awal, menurut Zaini, pihaknya mengalokasikan Rp 60 juta untuk pengadaan air bersih.

Tahun ini kontrak pengadaan air bersih dijalin dengan PDAM Kabupaten Mojokerto. Dana tersebut digunakan untuk mendapatkan 171 tangki air bersih. Setiap tangki mempunyai kapasitas 4.000 liter dengan harga Rp 350 ribu.

"Setiap harinya kami ploting 6 tangki untuk ketiga desa tersebut. Jumlah itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan warga," terangnya.

Air bersih tersebut, lanjut Zaini, diambil PDAM di Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Mojokerto. Air disalurkan dari mata air Djoebel di Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Mojokerto.


Zaini memperkirakan 171 tangki hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga selama satu bulan. Jika bulan berikutnya krisis air bersih masih terjadi, pihaknya akan kembali mengajukan anggaran melalui Perubahan APBD Pemkab Mojokerto 2019.

Jika dalam sehari warga membutuhkan 6 tangki air bersih, maka selama sebulan dibutuhkan penyaluran 180 tangki. "Kalau pun di kami tidak ada anggaran, BPBD Jatim siap mendukung pengadaan air bersih," ungkapnya.

Krisis air bersih ini, tambah Zaini, menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Oleh sebab itu, pihaknya berharap dunia usaha dan masyarakat umum ikut membantu warga yang kesulitan air bersih.

"Kami juga sudah mengajukan surat permohonan CSR (corporate social responsibility) dari PDAM. Kan selain bisnis, PDAM juga ada fungsi sosialnya," tandasnya.

Simak Video "Kemunculan Sumber Gas Gegerkan Warga Glagah Lamongan"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)