detikNews
Rabu 29 Mei 2019, 20:25 WIB

Psikolog: Stop Bullying Pemeran Video Porno Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Psikolog: Stop Bullying Pemeran Video Porno Banyuwangi Foto: Ilustrasi Foto: Mindra Purnomo/detikcom
Banyuwangi - Video porno yang melibatkan anak SMP dan mahasiswa di Banyuwangi telah viral di media sosial. Banyak komentar miring dari netizen terkait dengan kasus ini. Tentunya hal ini berdampak buruk dari terhadap dua anak dibawah umur yang terlibat dalam kasus video porno tersebut.

Psikolog RSUD Blambangan Banyuwangi Betty Kumala Febriawati mengatakan komentar netizen di medsos merupakan bullying. Hal ini bisa memperparah stres anak. Apalagi identas wajah korban yang masih dibawah umur itu sangat jelas dalam video. Foto-fotonya yang menggambarkan hubungan keduanya juga tersebar luas.

"Ada yang bikin jera dan ada yang bikin stres, tergantung individunya. Dalam artian dia mendapatkan tekanan psikis. Faktor pembulian bikin tekanan psikis, bikin anak itu semakin stres iya," kata Betty saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (29/5/2019).

Bila seorang anak sudah terjebak dalam persoalan tersebut, tambah Betty, tentu butuh proses panjang untuk mengembalikan keadaan psikis secara normal seperti semula. Seperti kasus video porno yang menjerat Ariel dan Luna Maya.


"Percaya diri butuh proses panjang, iya. Buktinya seperti Luna Maya dan Ariel kan, seperti itu. Karena dia bukan publik figur dan nggak terkenal banget, mungkin ngefek ke teman-temannya," katanya.

Penyebab adanya kasus ini, kata Betty, diduga karena faktor keluarga. Betty sendiri memiliki hipotesa rata-rata kasus seksual yang melibatkan Anak-anak bisa dikarenakan kesalahan pola asuh dari orang tua.

Betty yang sudah memiliki pengalaman panjang menangani konsultasi kasus tindakan di luar batas, seperti seks diluar nikah, menyarankan agar orang tua yang memiliki Anak-anak yang sudah masuk masa pubersitas, tidak memberikan pola asuh yang menekan atau melakukan cara-cara kekerasan, baik verbal maupun fisik.

"Dia memiliki sisi bisa dari faktor keluarga, entah pola asuh yang kurang perhatian, entah pembiaran, sehingga dia seperti ini. Kemudian dilihat dari pola asuh, lingkungan dia seperti apa. Apalagi anak remaja sudah menyukai lawan jenis, hal hal yang irasional, 'ya sudah aku happy saja'. Kebanyakan anak remaja seperti itu," ujarnya.

Betty menegaskan, kasus dua anak yang terjerat video porno harus mendapatkan perhatian serius dari orang tuanya. Caranya dengan pendekatan yang lunak, diberi perhatian, bukan dijauhi.

"Kalau kita ngerangkul ditanya baik-baik, ada apa. Dia akan terbuka. Awalnya melakukan dalam keadaan sadar, coba-coba, tekanan atau apa kita bisa korek. Kita rangkul dan kasih perhatian. Pokoknya dibimbing ke jalan yang benar. Anak ini butuh dukungan moril, terutama orang tua dan orang terdekat," tegasnya.


Dalam kasus ini, tambah Betty, dirinya siap membantu menyelesaikan persoalan psikis anak dalam video tersebut.

"Saya siap membantu. Apakah dia salah, iya salah. Cuma kalau sudah melakukan ini tanpa sadar atau disadari dan sudah mengakui kesalahannya, harus dirangkul, disupport. Jangan sampai kita salah berteman, tambah menjerumuskan," ujarnya.

Betty mengaku memiliki banyak pengalaman menyelesaikan persoalan tekanan psikis dari korban asusila, terutama sejak tahun 2007-2008. Beberapa metode dia gunakan agar si anak mau menatap ke depan, mau memperbaiki diri, mau berusaha tidak kembali ke belakang.
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed