detikNews
Senin 15 April 2019, 11:15 WIB

Korban Penipuan Rekrutmen PNS di Mojokerto Siap Cabut Laporan, Asal..

Enggran Eko Budianto - detikNews
Korban Penipuan Rekrutmen PNS di Mojokerto Siap Cabut Laporan, Asal.. Laporan ke polisi/File: detikcom
Mojokerto - Tiga korban penipuan diduga dilakukan Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Mojokerto Aang Rusli Ubaidillah, siap mencabut laporan ke polisi. Namun syaratnya, mereka meminta uang mereka dikembalikan oleh Aang.

Hal itu dikatakan Kuasa Hukum ketiga korban, Sulaiman. Dia menjelaskan, kasus dugaan penipuan dan penggelapan ini diatur dalam Pasal 372 dan 378 KUHP. Menurut dia, kasus ini bersifat delik aduan. Artinya, pelapor bisa mencabut laporannya di polisi untuk menghentikan proses hukum.

"Para korban bisa mencabut laporannya ketika kedua belah pihak sepakat berdamai. Akan lebih baik didamaikan di depan penyidik biar sama-sama tahu," kata Sulaiman saat dihubungi detikcom, Senin (15/4/2019).

Sulaiman menegaskan, ketiga korban yang menjadi kliennya siap untuk mencabut laporan di Polres Mojokerto. Syaratnya, Aang harus mengembalikan uang mereka senilai Rp 163 juta.


"Kami mohon Pak Aang segera bersedia bertemu dengan para korban untuk kami selesaikan secara damai. Karena korban berharap uang mereka kembali," ungkapnya.

Selain para korban ingin uangnya kembali, lanjut Sulaiman, tawaran untuk berdamai ini dicetuskan karena pihaknya merasa kasihan dengan Aang.

"Supaya tak sampai ke proses hukum. Kami kasihan dengan Pak Aang, dia masih muda, karirnya masih panjang, masih banyak harapan untuk ditempuh. Kami sangat menyayangkan kalau dia tak segera merapat," terangnya.

Sayangnya, Aang menolak mentah-mentah tawaran damai tersebut. Politisi Partai Demokrat ini kukuh merasa tak pernah melakukan penipuan seperti yang dituduhkan ketiga korban. Dia pun menyatakan siap menjalani proses hukum.


"Saya taat hukum, saya serahkan semuanya ke Polres Mojokerto. Saya hadapi semua itu. Saya serahkan ke Allah SWT hidup dan mati saya. Saya mau kembalikan apa, orang saya tak terima apa-apa," tandasnya.

Terdapat 3 orang yang mengaku menjadi korban dugaan penipuan oleh Aang. Mereka adalah Mudji Rokhmat (63), warga Dusun Pandansili, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Siti Khoyumi (52), warga Dusun Sambisari, Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, serta Irwan Siswanto (39), warga Jalan Melati, Perumda, Sooko, Mojokerto.

Mudji dan Siti diminta Aang membayar agar anak mereka menjadi PNS di lingkungan Pemkab Mojokerto. Sementara Irwan diminta Aang membayar agar keponakannya menjadi pegawai honorer di Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto. Namun, janji Aang sampai kini tak terealisasi. Padahal, uang telah mereka bayarkan ke Aang.

Mudji menyetorkan uang Rp 65 juta secara langsung di rumah Aang dalam dua tahap. Berdasarkan bukti kwitansi yang disimpan kuasa hukum korban, uang Rp 50 juta diserahkan ke Aang pada 20 Mei 2015, sedangkan Rp 15 juta diserahkan 17 Juni 2015.


Sementara Siti menyerahkan uang Rp 70 juta secara langsung ke Aang pada 4 Maret 2018. Namun, kwitansi bermaterai yang dia siapkan tak ditandatangni oleh Aang. Korban Irwan menyerahkan uang Rp 28 juta kepada Aang. Ketiga korban pun kompak menyewa pengacara untuk menempuh jalur hukum. Mereka melaporkan Aang ke Polres Mojokerto pada 4 April 2019.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed