Round-Up

Mitos dan Fakta Daun Kelor Dipercaya Peluntur Susuk Serta Banyak Khasiat

Suki Nurhalim - detikNews
Selasa, 26 Mar 2019 07:01 WIB
Warga memanen daun kelor/Foto: Sugeng Harianto
Surabaya - Di Tanah Air, daun kelor tidak bisa dilepaskan dari mitos sebagai alat peluntur jimat atau susuk. Sedangkan faktanya sekarang, daun kelor mulai menebar pesona untuk menjadi salah satu komoditas ekspor dari Jawa Timur.

Dalam tiga bulan terakhir, ada 13 kali ekspor daun kelor dari Jawa Timur ke Korea Selatan. Totalnya mencapai 55.894 kilogram atau 55,8 ton. Yakni dengan nilai transaksi sebesar USD 155.247,90 atau sekitar Rp 2,2 miliar.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim Drajat Irawan mengatakan, kelor yang diekspor ke Korsel berasal dari salah satu desa di Pasuruan. Tepatnya di Dusun Puntir, Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari, Pasuruan.

"Kalau perdagangan kelor selama ini memang diekspor. Mulai diekspor mulai Januari sampai Maret 2019. Paling banyak ke Korea," kata Drajat kepada detikcom di Surabaya, Senin (25/3/2019).

Drajat menambahkan, di Negeri Ginseng, daun kelor disebut sebagai daun ajaib yang bisa diolah untuk pengobatan herbal. Sementara di tanah air, kelor biasa diolah menjadi teh hingga bahan pengobatan.


"Kalau di negara lain sih mungkin aja untuk pengobatan herbal. Kalau di negara kita untuk teh, untuk kapsul," imbuh Drajat.

Seperti apa yang dilakukan Suwito, warga Desa Pencol, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan. Dia mengakui khasiat daun kelor. Dirinya juga senang mendengar Jatim menjadi salah satu eksportir tumbuhan yang memiliki nama ilmiah Moringa oleifera itu.

"Sangat bagus itu. Saya sangat mendukungnya. Biar masyarakat luas tahu kalau daun kelor itu banyak manfaat dan dibudidayakan," kata Suwito yang juga menanam pohon kelor di sekitar rumahnya.

Meski begitu, Suwito hanya menanam kelor untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Daun tersebut kadang ia jadikan sayuran, kadang juga ia olah menjadi obat yang ia kemas menjadi kapsul.

Suwito dan istri tengah memetik daun kelor/Suwito dan istri tengah memetik daun kelor/ Foto: Sugeng Harianto

Kakek berusia 75 tahun itu sudah menanam dan mengonsumsi daun kelor sejak lima tahun terakhir. Di usianya yang semakin senja, ia mengaku lebih sehat setelah rutin mengonsumsi daun kelor.

Ia percaya jika daun kelor memiliki khasiat untuk penyembuhan dan mencegah datangnya penyakit. Seperti mengobati stres dan mengatasi diabetes. Kemudian mencegah peradangan, kanker, penuaan dini dan bibir pecah-pecah.


Terlepas dari itu, Suwito juga tidak memungkiri jika daun kelor memiliki makna lain bagi warga Magetan. Jadi selain banyak menyimpan khasiat bagi kesehatan, daun kelor juga dipercaya warga untuk melunturkan jimat dan susuk.

Menurut Suwito, proses melunturkan jimat dan susuk biasanya dilakukan pada warga yang telah meninggal. Yakni saat jasad atau jenazah tengah dimandikan.

"Memang di kampung biasanya daun kelor itu untuk memandikan jenazah orang yang meninggal. Iya itu daun kelor mitosnya dipercaya untuk merontokkan ilmu atau susuk yang mungkin dimiliki oleh jenazah semasa hidupnya," imbuh Suwito.

Bahkan menurut Suwito, daun kelor juga kerap digunakan polisi untuk melumpuhkan penjahat. Yakni para penjahat yang kebal peluru.

"Biasanya polisi-polisi itu kadang pakai daun kelor katanya untuk melumpuhkan penjahat yang kebal dengan peluru tembakan," tambah Suwito.


Sementara salah satu anggota Polres Madiun yang tidak mau disebutkan namanya menambahkan, daun kelor juga bisa digunakan untuk merontokkan ilmu gendam atau hipnotis. Seperti ilmu-ilmu yang digunakan para pelaku penipuan yang bisa membuat korban tidak sadarkan diri.

"Untuk pelaku penipuan gendam, biasanya teman saya memakai daun kelor untuk merontokkan ilmunya itu," ujarnya.

Menurutnya, daun kelor yang masih menempel di ranting direndam dengan air. Kemudian dikibaskan pada pelaku pemilik ilmu gendam sebagai tersangka penipuan. Cipratan air dari daun kelor tersebut dipercaya bisa merontokkan ilmu tersebut.

Terlepas dari kepercayaan yang terlanjur berkembang di tanah air, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim tertarik untuk mengembangkan budidaya daun kelor sebagai komoditas ekspor. Pihaknya akan mulai melakukan identifikasi dan pembinaan di lapangan. Misalnya mulai dari sertifikasi lahan, penerbitan SOP dan sertifikasi hasil pertanian agar komoditas kelor memenuhi standar internasional.

"Potensi sangat bagus. Maka perlu kita bina ke depan petaninya agar memenuhi standar ekspor ke negara tujuannya. Mulai tahun 2019 ini kami akan melakukan identifikasi dan pembinaan di lapangan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistiyo. (sun/fat)