DetikNews
Kamis 14 Maret 2019, 22:50 WIB

Warga Ponorogo yang Eksodus ke Malang Bantah Didoktrin Kiamat

Muhammad Aminudin - detikNews
Warga Ponorogo yang Eksodus ke Malang Bantah Didoktrin Kiamat Puluhan warga Ponorogo yang mondok/Foto: Muhammad Aminudin
FOKUS BERITA: Warga Terdoktrin Kiamat
Malang - Puluhan warga Ponorogo dikabarkan eksodus ke Ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin di Kasembon, Kabupaten Malang, untuk menyongsong jatuhnya meteor sebagai salah satu tanda kiamat. Mereka membantah telah didoktrin kiamat dan tidak akan pulang hingga Ramadan.

Salah satu warga asal Ponorogo Giyanti mengaku baru datang lima hari yang lalu. Dia datang bersama suami dan anaknya yang baru berusia empat tahun.

Menurut wanita berusia 40 tahun itu, ponpes asuhan M Romli mengajarkan syariat Islam, Hadist dan tuntutan Alquran. Ia datang bersama keluarga untuk menimba ilmu (ngaji).

"Kami datang untuk ngaji, menuntut ilmu tidak ada batasan usia kan? Di sini juga diajarkan sesuai tuntutan Alquran dan Hadist, tidak ada yang salah," kata Giyanti saat ditemui di lokasi pondok, Kamis (14/3/2019).

Giyanti berencana akan mondok sampai Ramadan nanti. Terkait bekal untuk mondok, ia dan keluarga mengaku tidak sampai menjual rumahnya di Ponorogo.


"Kami ingin tetap di sini sampai Ramadan, gak akan pulang, meski ada kabar mau dijemput oleh Pemerintah Ponorogo. Baru Ramadan nanti, saya pulang," imbuhnya.

Ketika ditanya soal kiamat dan memilih berlindung di ponpes, Giyanti justru berkata lain. Menurutnya, datangnya kiamat dan akhir zaman sudah banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad beserta tanda-tandanya. Bukan hanya Gus Romli selaku pengasuh pondok.

"Jadi bukan pengasuh saja yang sampaikan. Kita di sini bisa fokus beribadah, salat berjamaah. Kalau di rumah pasti disibukan dengan kegiatan lain," tambahnya.

Sebagai persiapan hingga Ramadan nanti, Giyanti turut membawa beras dan kebutuhan pokok lain dari rumah. Bersama keluarga, Giyanti juga merasakan ketenangan selama berada di ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin.

"Disini hanya ngaji dan sampai Ramadan nanti. Saya bawa beras, lauk-pauk untuk kesiapan," ujarnya.


Setali tiga uang dengan Gianti, warga Ponorogo lainnya Danang Supardi juga datang bersama keluarga untuk menimba ilmu dan beribadah. Sesuai rencana, Danang akan berada di pondok sampai Ramadan nanti.

"Disini ngaji, bersama warga lain juga berasal dari Ponorogo. Sampai Ramadan nanti, semua akan di sini," kata Danang.

Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto yang datang bersama jajarannya ke Ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin mengatakan, warga Ponorogo yang berada di Kasembon berjumlah 59 orang.

"Kami ralat bukan 52, tetapi jumlahnya 59 orang dari Ponorogo. Kami juga tengah menggali keterangan kepada para jemaah, untuk mendapatkan informasi utuh alasan datang ke pondok ini," kata Budi.

M Romli mengaku sebagai mursyid (guru) Thoriqoh Akmaliyah banyak diikuti para jemaah memang tengah mengadakan triwulanan dimulai rajab sampai ramadan. Selama tiga bulan, para jemaah akan mengikuti wirid dan ibadah wajib untuk menyongsong jatuhnya meteor sebagai tanda kiamat.


Mereka datang dengan membawa 500 kg gabah atau 300 kg beras sebagai bekal hidup selama 3 bulan di pondok. Yakni mulai Rahab hingga Ramadan.

"Lha selama itu, saya hitung butuh per kepala gabah 5 kuintal atau beras 3 kuintal. Kalau tidak ada meteor, maka gabah dan beras bisa dibawa pulang kembali," kata Pengasuh ponpes M Romli yang mengaku sebagai mursyid (guru) Thoriqoh Akmaliyah.
(sun/bdh)
FOKUS BERITA: Warga Terdoktrin Kiamat
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed