Detik-detik Atap Kelas MTs Mojokerto Ambruk Lukai 9 Siswa dan 1 Guru

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 08 Feb 2019 14:40 WIB
Foto: Istimewa
Mojokerto - Ambruknya atap ruang kelas VII MTs Bahrul Ulum, di Mojokerto menyisakan trauma bagi para siswa. Detik-detik ambruknya atap tersebut hingga kini masih terngiang di kepala mereka.

Seperti yang dikatakan Ilham Saputra, salah seorang siswa kelas VII MTs Bahrul Ulum di Desa Kupang, Jetis. Menurut dia, saat atap ruang kelasnya ambruk, kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Arab baru dimulai.

Para siswa baru saja mengumpulkan LKS karena sebelumnya mendapatkan pekerjaan rumah (PR) dari guru mereka. Jarum jam masih menunjukkan pukul 07.30 WIB.

"Saya tidak mendengar suara apapun sebelum atap ambruk," kata Ilham kepada wartawan di rumahnya, Dusun Warugunung Lor, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Jumat (8/2/2019).


Seperti biasa, Ilham duduk di kursi ke dua dari belakang di dalam kelasnya. Meja belajar anak ke tiga dari tiga bersaudara pasangan almarhum Hartono dan Suhartatik berada di barisan paling kiri.

Tak adanya tanda-tanda atap yang akan ambruk membuat 22 siswa dan seorang guru Bahasa Arab, Dzurrotun Ainin Faizah tak sempat menyelamatkan diri. Saat atap ruang kelas VII ambruk, Ilham spontan memegang kepala dengan kedua tangannya.

"Kepala saya benjol tertimpa genteng dan plafon. Suara ambruknya cukup kencang," ungkap remaja 12 tahun ini.

Material atap itu berjatuhan ke setiap sudut ruang kelas seluas 6x5 meter persegi tersebut. Menurut Ilham, saat itu terjadi kepanikan di antara para siswa dan guru. Dia melihat sebagian temannya berhasil selamat karena bersembunyi di bawah meja.


Tak sedikit dari temannya yang menangis kesakitan akibat tertimpa atap bangunan. Dia menyebut rekannya bernama Rifki mengalami patah tangan kanan. Sementara temannya yang lain, yaitu Rio, kepalanya berdarah tertimpa kayu dan genteng. Guru mereka juga terluka di bagian kakinya.

"Banyak teman saya yang menangis dan berusaha keluar dari kelas. Saya lompat lewat jendela yang tidak ada kacanya karena pintu terhalang kayu-kayu yang ambruk," terangnya.

Sesaat setelah atap ambruk, kata Ilham, para guru dan Kepala MTs Bahrul Ulum berdatangan mengevakuasi siswa dan guru yang tertimpa material bangunan. Para korban dilarikan ke Puskesmas Kupang yang letaknya persis di depan sekolah ini.

"Saya tak ikut ke puskesmas, saya langsung pulang, sampai sekarang masih trauma," cetusnya.


Penjaga MTs Bahrul Ulum Sariman (40) menjelaskan, suara ambruknya atap ruang kelas VII terdengar cukup keras. Saat itu dia sedang membersihkan kamar mandi sekolah.

"Saat saya datangi, anak-anak pada berlarian keluar, yang lain tiarap di bawah bangku," tandasnya.

Kepala MTs Bahrul Ulum Ahmad Shofwan menyebut, korban luka akibat ambruknya atap ruang kelas VII sebanyak 10 orang. Terdiri dari 9 siswa dan 1 guru Bahasa Arab.

Para korban sempat menjalani perawatan di Puskesmas Kupang dan RSUD RA Basuni, Gedeg, Mojokerto. Namun, kini semua korban telah dipulangkan untuk dirawat jalan.

"Semua korban sudah dipulangkan," terangnya. (fat/fat)