Kampung di Sidoarjo ini Tak Lagi Langganan Banjir, Pakai Apa Ya?

Suparno - detikNews
Rabu, 28 Nov 2018 07:30 WIB
Foto: Suparno
Sidoarjo - Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah delta, sehingga menjadi langganan banjir setiap musim penghujan. Namun sebuah kampung di Sidoarjo berhasil membuktikan sebuah metode ampuh untuk mencegah banjir datang lagi.

Ya, mereka membuat sumur resapan di sejumlah titik. RT 23 RW 27 Desa Sekardangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Sidoarjo berhasil membuktikan bahwa sumur resapan mampu mencegah banjir.

"Cara pembuatannya sangat mudah dan murah. Hanya mengeluarkan biaya Rp 150 ribu bisa membuat satu sumur resapan," kata Ketua RT 23 RW 7, Desa Sekardangan, Edi Priyanto kepada detikcom, Rabu (28/11/2018).

Edi mengatakan, sesuai namanya, sumur resapan berfungsi menampung air hujan. Ketika hujan, airnya akan akan masuk ke dalam sumur kemudian akan merembes ke dalam tanah.


Hal pertama yang harus diperhatikan saat membuat sumur resapan adalah pemilihan lokasinya.

"Lokasi sumur harus di tanah yang datar dan posisinya yang paling rendah," ungkap Edi.

Setelah itu tanah digali hingga menjadi sumur sedalam 2-3 meter. Selanjutnya dimasukkan buis beton dengan diameter satu meter sebanyak tiga buah. Setiap buis beton juga diberi jarak untuk resapan air, kemudian dibuatkan tutup bagian atas dengan plat beton, namun bisa dibuka dan ditutup.

Kampung di Sidoarjo ini Tak Lagi Langganan Banjir, Pakai Apa Ya?Foto: Suparno

"Saat ini ada sekitar 5 sumur resapan dan 38 biopori di sudut-sudut kampung. Alhamdulillah saat ini tidak sampai satu jam genangan air akan surut, dan di lingkungan kami tidak pernah banjir," terang Edi.

Padahal sebelumnya menurut Edi, kampungnya selalu menjadi langganan banjir. Kalau tidak, genangan air sehabis hujan selalu ada dan tak kunjung surut.

Selain dapat mengurangi genangan air, di dalam sumur resapan juga dapat dijadikan tempat menyimpan daun-daun kering. Kelak daun-daun kering ini dapat dijadikan pupuk kompos bagi tanaman warga.


"Di dalam sumur ini kami isi dengan daun-daun kering yang mana nantinya setelah 2-3 bulan daun-daun tersebut akan kami jadikan pupuk kompos," tandas Edi.

Bila sewaktu-waktu warga membutuhkan untuk merawat tanaman atau menanam tanaman yang dapat menghijaukan lingkungan, maka mereka tinggal mengambil pupuk dari sumur tersebut.

Edi pun berharap metode ini juga diterapkan oleh kampung atau perumahan warga Sidoarjo lainnya untuk mengurangi genangan air. Bila setiap RT bisa menerapkan minimal 3 sumur resapan dipasang, maka permasalahan banjir ataupun genangan yang seringkali terjadi di kampung atau perumahan dapat segera teratasi.

"Metode ini sebaiknya diterapkan di tiap-tiap kampung atau perumahan. Insyaallah di Sidoarjo akan bebas banjir," pungkasnya. (lll/lll)