'Gerbong Maut' yang Asli Hanya Satu, Di Mana Dua Gerbong Lainnya?

Muhammad Aminudin - detikNews
Selasa, 27 Nov 2018 19:31 WIB
Satu-satunya 'Gerbong Maut' asli. (Foto: Muhammad Aminudin/File)
Malang - Dari tiga gerbong yang menjadi saksi bisu tragedi 'Gerbong Maut', satu-satunya gerbong asli yang bisa ditemukan adalah gerbong ketiga.

Gerbong dengan kode GR 10152 itu kini tersimpan rapi di Museum Brawijaya, Kota Malang, yang dikelola langsung oleh TNI AD, dalam hal ini Kodam V Brawijaya.

TNI AD berhasil menelusuri dan menemukan keberadaan gerbong itu pada 1967 di Yogyakarta. Gerbong itu kemudian dibawa ke Malang.


Menurut salah satu pemandu di Museum Brawijaya, Suryo Atmojo, gerbong ini menjadi bukti kekejaman penjajah terhadap para pejuang yang ikut gugur sebagai tawanan kala itu.

"Gerbong ketiga ini membawa 38 orang, terbuat dari seng, tertutup rapat tanpa ventilasi udara. Jadinya semua pejuang yang dibawa meninggal dunia," terang Suryo saat berbincang dengan detikcom, Selasa (27/11/2018).

Replika Gerbong Maut di Bondowoso. (Foto: Chuk S Widarsha/File)

Bahkan Suryo mengaku sempat mendengar cerita kelam tentang 'Gerbong Maut' dari pelaku sejarahnya sendiri. Ia pun dibuat keder saat mendengarnya.

"Karena kepanasan, kondisi juga mengenaskan, seratus tawanan yang dibawa oleh tiga gerbong tercatat dalam dokumen di perpustakaan, semua namanya, baik yang selamat dan yang meninggal," beber pria yang berdinas di Museum Brawijaya sejak 1985 ini.

Total ada 46 tawanan dari 100 tawanan yang dibawa dengan tiga gerbong dari Stasiun Bondowoso menuju Stasiun Wonokromo, Surabaya, untuk dipindahkan ke penjara Bubutan. Hal ini juga terlihat dari catatan yang dipasang pada dinding gerbong yang terpajang di bagian belakang museum tersebut.


Dalam catatan itu, dari 100 tahanan yang diangkut, sebanyak 46 orang meninggal. Sisanya sakit payah 11 orang, kondisi sakit 31 orang, dan 12 orang dalam kondisi selamat.

"Gerbong pertama selamat semua, meski ada yang pingsan dan sakit, karena masih ada lubang sebesar paku. Untuk gerbong ketiga tidak ada sama sekali lubang angin," papar Suryo.

Gerbong tersebut ditengarai biasa dipergunakan untuk mengangkut barang, tapi dipaksa mengangkut tahanan dari Bondowoso ke Surabaya. Meski menempuh perjalanan selama 16 jam, para tawanan tidak diberi makan dan minum.

Replika 'Gerbong Maut' di Surabaya. (Foto: Deni Prastyo Utomo/File)


Suryo menambahkan, dua gerbong lain tidak diketahui keberadaannya hingga kini. Kemudian muncul dugaan gerbong-gerbong itu sengaja dihilangkan jejaknya karena suatu alasan. Sedangkan gerbong yang ada di Surabaya dan Bondowoso dipastikan hanyalah replika untuk mengenang peristiwa kelam tersebut.

"Jadi yang di sini bukti fisiknya, yang di Surabaya dan Bondowoso hanya replika atau monumennya," ungkap Suryo.

Lantas ke mana dua gerbong yang tersisa? (lll/lll)