DetikNews
Rabu 21 November 2018, 07:30 WIB

Serangan pada Polisi di Lamongan, Antara Dendam atau Radikalisme?

Rahma Lillahi Sativa - detikNews
Serangan pada Polisi di Lamongan, Antara Dendam atau Radikalisme? Korban penyerangan dirujuk ke RS Bhayangkara Surabaya. (Foto: Eko Sudjarwo/File)
Surabaya - Seorang polisi di Lamongan menjadi korban penyerangan orang tak dikenal saat bertugas di Pos Lantas Paciran, Selasa (20/11/2018) dini hari. Pelaku diketahui berjumlah dua orang dan langsung dapat diamankan seusai kejadian.

Menurut Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung, yang terjadi sebenarnya adalah pelemparan batu di pos lantas yang ada di wilayah Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang mengakibatkan kaca pos tersebut pecah.

Mengetahui hal itu, petugas jaga Bripka A melakukan pengejaran bersama sekuriti WBL. Pelaku diketahui melarikan diri ke arah barat dengan sepeda motor.


"Saat melakukan pengejaran tersebut, korban diketapel dengan kelereng sehingga mengenai mata sebelah kanan dan pelaku tetap dikejar hingga ditabrak korban hingga korban dan pelaku terjatuh lalu diamankan oleh warga," terang Feby kepada detikcom, Selasa (20/11/2018).

Dua pelaku berhasil diamankan oleh polisi. Yang satu berinisial E, warga Sidoarjo dan S, warga Lamongan.

"Dua pelaku ini berinisial E yang warga Sidoarjo dan S yang adalah warga Lamongan," kata Feby kepada detikcom, Selasa (20/11/2018).


Feby menambahkan, pelaku E pernah terlibat kasus pembunuhan di Sidoarjo sehingga dipecat dari pekerjaannya sebagai anggota Polri.

"Ya yang bersangkutan ini pecatan anggota Polri," tandas Feby.


Ditambahkan Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, E merupakan mantan anggota Polresta Sidoarjo. Pelaku sempat menjalani penahanan kemudian diberhentikan dari kesatuannya di tahun 2004.

Menurut Luki, pelaku E dipecat dari korps Bhayangkara karena pernah terlibat penembakan yang mengakibatkan terbunuhnya seseorang di Sidoarjo.

"Pelaku ini waktu itu terkena kasus pembunuhan guru ngaji. Sedangkan yang satunya sipil residivis dan kita ungkap," terang Luki.


Namun polisi juga mengungkap fakta bahwa selama menjalani masa hukuman di penjara, E kerap berkomunikasi dengan sejumlah kelompok radikal.

Polisi pun telah melakukan penggeledahan di rumah E. Luki mengungkapkan, seusai insiden, polisi langsung melakukan pengembangan. Dari pengembangan itu, kemudian pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan Densus 88.


Hal ini dilakukan karena dari hasil penggeledahan di rumah E tersebut ditemukan buku-buku yang berhubungan dengan kelompok radikalisme.

"Karena disinyalir pelaku ini ada kaitannya (kelompok radikal). Karena pada saat penggeledahan di rumahnya banyak buku-buku yang memang berhubungan dengan kelompok-kelompok radikal," bebernya.


Luki menambahkan, dari penemuan buku-buku tersebut juga telah ditemukan titik terang untuk penyelidikan selanjutnya.

"Sudah ada titik jaringannya yang nanti mempermudah penyelidikan yang akan kita lakukan berikutnya," terang Luki.


Untuk itu, polisi terus mendalami motif penyerangan E pada polisi di Lamongan, apakah ada kaitannya dengan balas dendam karena dipecat atau yang lainnya.

"Motif sedang didalami. Yang jelas kita dalami apakah ada sakit hati dan yang lain-lain kita lihat nanti," ujar Luki.

Selain buku-buku tersebut, barang bukti yang diamankan dari pelaku adalah kendaraan bermotor yang digunakan pelaku saat melakukan penyerangan dan ketapel berikut 7 butir kelereng yang digunakan untuk melukai korban.


Sedangkan korban Bripka A sempat menjalani perawatan di RS Muhammadiyah Lamongan seusai insiden. Namun setelah itu ia langsung dirujuk ke RS Bhayangkara Surabaya dan menjalani operasi.

Menurut Luki, kornea mata korban tidak sampai pecah akibat diketapel oleh pelaku penyerangan. Hanya saja ada sedikit robekan di bola matanya.

Kini polisi tinggal menunggu kondisi Bripka A benar-benar pulih.


Simak Juga 'Polisi di Lamongan Jadi Korban Penyerangan':

[Gambas:Video 20detik]



(lll/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed