DetikNews
Selasa 13 November 2018, 08:29 WIB

Duh! Tak Mampu Mabuk Miras, Ngelem pun Jadi

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Duh! Tak Mampu Mabuk Miras, Ngelem pun Jadi Foto: Istimewa
Surabaya - 10 Anak tertangkap basah sedang ngelem. Mereka dipergoki polisi sedang nge-fly alias teler di balai RT Balai RT 03 RW 02 Jalan Kutisari Selatan I, Kelurahan Kutisari, Tenggilis. Mereka pun segera dibawa ke Polsek Tenggilis.

"Saat itu kami sedang patroli, lalu ada ibu-ibu yang melapor kalau ada anak-anak sedang ngelem di balai RT. Kami datangi tempat itu, dan benar kami dapati mereka sedang teler," ujar Kanit Reskrim Polsek Tenggilis AKP Puguh Suhandono kepada detikcom, Senin (12/11/2018).

Puguh mengatakan saat itu Minggu (11/11) sekitar pukul 20.00 WIB. Saat didekati, Puguh melihat 10 anak sedang duduk-duduk tanpa mempedulikan sekitarnya. Di tangannya tergenggam plastik bening dengan cairan kental berwarna kuning di dalamnya.

Dari situ Puguh tahu jika anak-anak tersebut sedang teler karena pengaruh lem yang ada di dalam plastik tersebut. Puguh bersama anggota lain kemudian membawa anak-anak itu ke Polsek Tenggilis.


Foto: Istimewa

Dari hasil pemeriksaan, kesepuluh anak yakni 8 laki-laki dan 2 perempuan itu terdiri dari 9 anak di bawah umur dan 1 remaja. Sebagian besar dari mereka merupakan pelajar SMP. Tapi tidak semua dari mereka masih berstatus pelajar karena ada dua anak yang putus sekolah.

Sepuluh anak itu yakni delapan laki-laki adalah AS (10), pelajar kelas 4 SD; AAZ (15), pelajar kelas 9 SMP; TAG (13), pelajar kelas 7 SMP; Fahrudin Maulana (18), pekerja serabutan; AM (13), pelajar kelas 7 SMP; ZMK (13), pelajar kelas 8 SMP; AEK (13), pelajar kelas 7 SMP; DIK (13), pelajar kelas 7 SMP. Sedangkan dua anak perempuan adalah ESP (14) dan FIZ (14).

"Karena masih anak-anak, kami hubungi orang tuanya masing-masing dan kami minta membuat surat pernyataan. Kemudian orang tuanya kami suruh pulang dan tadi pagi dijemput kembali oleh orang tuanya setelah diberi arahan oleh Kapolsek," lanjut Puguh.

Puguh mengatakan dengan begitu 10 anak yang terdiri dari 8 laki-laki dan 2 perempuan itu tidur di Polsek Tenggilis. Kapolres Tenggilis Kompol Totok Sumariyanto sempat memberi pengarahan kepada mereka.

Mereka oleh Totok kemudian disuruh tidur di ruangan di dekat musala. Pagi harinya, bahkan sejak subuh, para orang tua mereka sudah datang ke polsek untuk menjemput mereka.


Foto: Istimewa

"Paginya mereka kami serahkan ke orang tuanya. Kan mereka hari Senin harus sekolah," kata Totok.

Selain mengamankan 10 anak yang ngelem, polisi juga menemukan sarana lem yang digunakan mereka untuk fly atau teler. "Itu dibelinya dengan cara patungan. Mereka anak sekolah mendapatkan uang sakunya dari mana. Walaupun lemnya itu tidak mahal, tapi namanya anak-anak uang sakunya dari mana," jelas Puguh.

Puguh mengatakan menurut pengakuan warga sekitar, anak-anak tersebut diduga lebih dari satu kali ngelem di lokasi tersebut. "Dari keterangan saksi di kanan dan kiri lokasi, warga sering mendapati puluhan bekas lem. Tapi warga tidak menyadari kalau lem tersebut dipakai untuk nge-fly," terang Puguh.

Bagaimana ngelem itu dilakukan oleh mereka yang mayoritas masih di bawah umur?

"Plastik itu dibuka, lalu didekatkan hidung lalu dihirup dengan cara bergantian. Mereka melakukannya di dalam balai RT di lantai dua," kata Puguh.


Foto: Istimewa

Puguh mengatakan 10 anak itu sempat disuruh mempraktikkan bagaimana cara ngelem. "Lem tersebut dipindahkan ke dalam kantong plastik berukuran kurang lebih 1/2 liter. Kemudian plastiknya dibuka dan mereka hirup aromanya," ungkap Puguh.

Satu kantung plastik yang berisikan lem tersebut bisa digunakan secara bergiliran." Satu kantung plastik bisa digunakan bergantian," ujar Puguh.

Ada satu lagi alasan anak-anak itu ngelem. Selain murah, mereka ngelem hingga teler sebagai pengganti mabuk minuman keras (miras). Bila mabuk miras mereka tak mampu karena harganya yang relatif mahal bagi mereka. Selain itu mabuk meninggalkan bekas berupa bau. Jika ngelem, tak ada bekas yang bisa membuat orang tua curiga

Pemkot Surabaya pun turun tangan menangani kasus 10 anak yang tertangka basah ngelem di Balai RT di Tenggilis itu. Pemkot akan turun tangan melakukan pendampingan.

"Pemkot akan melakukan pendampingan melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A). Data mereka akan kami teruskan kepada mereka. Nantinya akan ada pendampingan psikolog dan melakukan pendalaman kepada pihak keluarga, kenapa kok bisa begini," kata Kabag Humas Pemkot Surabaya M Fikser.


Fikser mengatakan Dinas Pendidikan dan DP5A akan berjalan bersama. Mereka berjalan beriringan untuk membantu mengatasi problem anak-anak di bawah umur tersebut.

"Nanti dinas pendidikan akan jalan. DP5A juga ikut melakukan pendampingan. Nantinya kamiu akan melakukan penyelesaian kepada duduk persoalannya. Sebab anak-anak bisa melakukan hal seperti itu persoalannya macam-macam. Mungkin biasa pengaruh dari luar, ada problem dengan orangtua dan persoalan pribadi," ujar Fikser.

Fikser juga menjelaskan Pemkot Surabaya melalui Satpol PP terus melakukan pemantauan terhadap anak-anak yang bergerombol yang ditengarai melakukan aktivitas mencurigakan.
(iwd/lll)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed