DetikNews
Senin 15 Oktober 2018, 15:07 WIB

Kekeringan di Ponorogo Meluas, 14 Desa Butuh Pasokan Air Bersih

Charoline Pebrianti - detikNews
Kekeringan di Ponorogo Meluas, 14 Desa Butuh Pasokan Air Bersih Foto: Charoline Pebrianti
Ponorogo - Kekeringan meluas di Ponorogo. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo dari sebelumnya 11 desa kini meluas menjadi 16 titik di 14 desa yang tersebar di 8 kecamatan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Setyo Budiono mengatakan 11 desa tersebut Desa Dayaan (Badegan), Desa Tulung (Sampung), Desa Karangpatihan (Balong), Desa Pandak (Balong), Desa Ngendut (Balong), Desa Duri (Slahung), Kesa Kambeng (Slahung), Desa Tugurejo (Slahung), Desa Pelem (Bungkal), Desa Karangpatihan (Pulung), dan Desa Suren (Mlarak).

"Tambahannya di Desa Munggu (Bungkal), Desa Slahung (Slahung) dan Desa Tumpuk (Sawoo)," tuturnya saat ditemui di kantornya, Jalan Sekar Putih Timur, Kelurahan Tonatan, Senin (15/10/2018).

Budi menambahkan ketiga desa yang merupakan tambahan ini baru Desa Munggu (Bungkal). Sementara Desa Slahung dan Desa Tumpuk belum bisa dilakukan droping karena belum memiliki embung atau bak penampung air.

"Jadi kalau belum punya embung, kami belum bisa kirim. Tim kami biasanya datang ke lokasi dan melakukan pengkajian," terang dia.


Menurutnya, jika tim sudah melakukan pengkajian dan dinyatakan layak mendapatkan bantuan. Tim BPBD bakal memberikan terpal dan membangun embung sederhana untuk menampung air di salah satu lahan milik warga.

"Kami biasanya melakukan droping air 2 kali dalam seminggu karena keterbatasan mobil tangki," jelasnya.

Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah posisi pemukiman yang mengalami kekeringan berada di kawasan pegunungan. Tak jarang anggota BPBD pun terpaksa mengurangi muatan air karena curamnya medan yang harus dilalui.

"Dalam seminggu kami harus mengirim 922 ribu liter untuk warga, total ada 4.144 warga yang bergantung dari kiriman air kami," papar dia.

Demi mengatasi permasalahan tersebut, Budi menambahkan ada beberapa cara yang bisa ditempuh BPBD. Cara jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek bisa diatasi dengan pengiriman air bersih ke masing-masing desa yang membutuhkan. Sedangkan untuk jangka panjang, harus mengandalkan sumur bor dan embung.


"Seperti tahun 2009 lalu pembangunan Embung Dayakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungkur, terus juga saat ini ada percepatan pembangunan waduk Bendo di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo," imbuhnya.

Namun, Budi juga menegaskan permasalahan setiap titik yang mengalami kekeringan berbeda. Ada yang sudah di bor untuk sumur namun tidak mengeluarkan air. Adapula desa yang tidak bisa di buat sumur bor karena rawan bencana tanah bergerak seperti di Desa Tugerejo (Slahung).

"Desa Karangpatihan (Pulung) sudah ada sumur dalam, namun debit airnya 0,5 liter per detik tidak bisa mencukupi kebutuhan warga," tandas dia.

Bapak dua orang anak ini pun berharap permasalahan kekeringan ini bisa cepat teratasi. "Kami sudah melakukan usaha maksimal, kami harap awal November sudah musim hujan," pungkas dia.


Saksikan juga video 'Kemarau Panjang, Pompa Air Rusak, Kekeringan di Pasuruan Meluas':

[Gambas:Video 20detik]


(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed