Cerita Pilu Yudis, Bocah Kurus dan Lumpuh Karena Kelainan asal Magetan

Cerita Pilu Yudis, Bocah Kurus dan Lumpuh Karena Kelainan asal Magetan

Rahma Lillahi Sativa - detikNews
Sabtu, 01 Sep 2018 09:49 WIB
Foto: Sugeng Harianto
Surabaya - Kisah Evan Wahyudianto, bocah berumur 9 tahun namun berbobot 8 kg, lumpuh dan tak bisa bicara asal Magetan, membuat iba banyak orang. Apalagi ia tumbuh di tengah keluarga yang sangat sederhana.

"Ini usia sudah hampir 10 tahun tapi beratnya hanya 8 kg sehingga tampak kurus kering," ujar Indah, ibu Evan kepada detikcom, Jumat (31/8/2018).

Indah merasa bingung dengan kondisi putra sulungnya itu. Sebab Evan, atau yang lebih akrap disapa Yudis, lahir secara normal dengan berat 3,2 kg. Namun seingat Indah, di usia satu bulan, Yudis tiba-tiba terserang demam tinggi hingga 40 derajat, bahkan sampai kejang.


"Awalnya dulu panas tinggi sampai 40 derajat terus saya bawa ke RSUD Soeroto Ngawi. Waktu itu opname sampai sebulan lebih," katanya.

Saat dirawat itu pulalah, Yudis sempat mengalami koma selama dua minggu, bahkan mati suri selama 1,5 jam.

Namun sejak saat itu, berat badan Yudis tak pernah bertambah, padahal Yudis makan dengan lahap seperti anak-anak seumurannya. Meski hidup pas-pasan, Indah masih bisa memberikan nasi dengan sayur bening dan sayur asem kesukaan Yudis.

"Kalau makan biasa, sukanya sayur bening dan asem. Kalau buah pepaya sukanya," ungkapnya.

Hanya saja, selain kondisinya tersebut, Yudis jarang jatuh sakit. Untuk itu Indah hanya membawanya ke dokter bila sakitnya membutuk seperti demam atau sakit gigi. "Jarang ke dokter, cuma saat panas saya bawa ke RS Pangkalan Maospati (RS Lanud Iswahjudi). Panas dan sakit gigi waktu itu," katanya.

Pernah sekali Indah menanyakan tentang kondisi anaknya yang kurus kering padahal makan biasa. Menurut keterangan dokter, anaknya diduga mengalami kelainan pada tubuhnya, namun ia tak memahami dengan pasti apa jenis kelainan yang dimaksud.


Untuk menghidupi Yudis, Indah yang ditinggal sang suami saat Yudis masih berumur 2 tahun, pernah bekerja sebagai kuli pencetak genteng. "Suami pertama meninggal. Saya sempat janda sekitar empat tahun merawat Yudis sendiri. Ya terpaksa kerja serabutan. Kadang kalau ada orang minta nyuci ya saya ambil saja," ungkapnya.

Beruntung Indah bertemu dengan suami keduanya, Imam (28) di tahun 2014. Kendati demikian, Imam juga hanya bekerja sebagai kuli angkut genteng dengan penghasilan berkisar Rp 40-45 ribu perhari.

"Alhamdulilah suami saya sabar dan sayang baik dengan saya dan anak tirinya meski ada kekurangan. Malah Yudis kalau sama ayahnya ini nurut, ndak rewel. Kalau sama saya kadang rewel," tuturnya.


Tak hanya pas-pasan, keluarga kecil ini juga tak memiliki tempat tinggal. Menurut Indah, rumah yang mereka tempati saat ini adalah milik modin atau perangkat desa setempat bernama Muslih.

Dengan kemurahan hati Muslih, keluarga kecil ini diperbolehkan tinggal di rumah berukuran 5x10 meter itu dengan perabotan seadanya. Namun rumah itu telah dilengkapi dengan dapur dan kamar mandi. Ruang tamunya pun sudah beralaskan keramik.

Di sini pulalah wanita berusia 27 tahun ini kerap menggelar tikar agar Yudis bisa berbaring dan merasakan udara segar. Sebab sejak lumpuh, Yudis praktis tak pernah keluar rumah.

"Alhamdulilah pak Modin baik. Ini rumah suruh nempati gratis. Ini soalnya daripada suami pulang pergi kerja jauh suruh nempati," ujarnya.

Namun semenjak kisahnya viral, bantuan pun mengalir untuk keluarga Yudis. Menurut Indah, ada yang memberikan bantuan berupa uang maupun sembako. Ada pula yang memberikan kursi roda.

"Bantuan terus berdatangan ini mas, alhamdulilah dari pak Dandim tadi juga kesini ngasih bantuan uang dan sembako. Kemarin bantuan dari grup peduli di medsos berupa kursi roda," terang Indah.


Kursi roda bantuan yang diberikan oleh Paguyuban Wong Magetan (PWM) itu diakui sangat membantu Yudis. Sebab selama ini Yudis tak pernah keluar rumah karena kondisinya. Kalaupun keluar rumah, paling ke dokter jika Yudis jatuh sakit, itupun harus dibonceng dengan sepeda motor.

Namun untuk saat ini, Indah mengaku Yudis masih harus beradaptasi dengan kursi roda itu karena belum terbiasa. Ini terlihat ketika Yudis menangis ketika didudukkan agak lama di kursi roda tersebut.

"Belum terbiasa ini nampaknya. Biasanya berbaring di kasur. Mungkin capek kalau bersandar di kursi roda," tuturnya.



Tonton juga 'Lumpuh Tak Jadi Alasan Nurjannah Berhenti Beraktivitas':

[Gambas:Video 20detik]

(lll/lll)