Hal ini terjadi pada 20-an siswa yang bertahan pasca penutupan SDN 2 Bangunsari, Kota Ponorogo. Sepekan setelah tahun ajaran baru 2018/2019 dimulai, 20-an siswa ini akhirnya pindah ke sekolah yang baru.
"Iya, kami dengan terpaksa memindahkan sekolah anak kami ke SDN Surodikraman 1 dengan alasan sama murahnya seperti SDN Bangunsari 2 ini," tutur Maryono kepada wartawan, Senin (23/7/2018).
Maryono mengaku baru mengurus perpindahan anaknya usai sepekan terakhir anaknya tidak menjalani kegiatan belajar-mengajar di SDN Bangunsari 2.
"Padahal anak kami setiap pagi datang ke sekolah dengan harapan bisa belajar seperti biasa, tapi tidak ada guru, sekolah ditutup. Kami juga bingung sebagai orang tua," jelasnya.
Maryono menegaskan memindahkan sekolah anaknya bukanlah perkara mudah. "Pindah sekolah kan butuh persiapan, mulai dari ganti seragam, ganti buku, bayar uang pendaftaran dan lain-lain. Itu kan butuh uang, ketika pindah makanya cari sekolah yang sama-sama murah," lanjutnya.
Namun hingga hari ini, baru 9 siswa dari SDN 2 Bangunsari yang dipindahkan oleh orang tuanya ke sekolah lain agar dapat menikmati pendidikan yang layak. "Apalagi anak saya kan kelas 6, sebentar lagi mau ujian. Jadi harus segera pindah biar bisa ikut ujian," tandas Maryono.
Banyak wali murid yang merasa keberatan dengan rencana penutupan sekolah ini sebab sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah yang tidak memungut biaya di Kota Ponorogo. Siswa hanya diminta untuk membayar buku saja.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo Tutut Erliana menegaskan pihaknya memang menutup SDN Bangunsari 2 dengan alasan perampingan. "Di sekolah itu, tiap kelas muridnya cuma 3-4 anak lebih baik kan ditutup. Pindah ke sekolah lain," terangnya beberapa waktu lalu.
Tutut pun menyarankan kepada para wali murid untuk segera memindahkan anaknya ke sekolah lain. "Kan disitu ada banyak sekolah lain, ada Bangunsari 1 dan 3, ada SDN Nologaten, ada SD Maarif," pungkasnya. (lll/lll)